Tuesday, August 16, 2011

Cukup Sebuah Rasa

Saatnya menutup hari
Terlintas bayangmu
Saat kupejam mata ini
Kangen...?!
Kamu benar,
Aku merasakan sebuah kerinduan
Untuk kembali bersamamu
Merasakan sebuah keinginan
Untuk bisa melangkah disampingmu
Seperti beberapa waktu yang lalu
Saat aku bisa menjadi teman ceritamu
Saat kamu masih menjadi pendengar terbaikku
Segala tentang kamu ada disini
Dalam hati dan pikirku
Tak akan pernah lelah menyimpannya
Meskipun tak mampu mengulangnya

Monday, August 15, 2011

Masih Tentang Kamu

Lama tak terdengar tentangmu
Mendengar cerita apapun darimu
Mengikuti segala kesibukan harimu
Bukan sebuah keinginan dariku
Dan mungkin juga bukan maumu
Yang menjadikan situasi ini ada
Tak perlu sampaikan alasan
Usah mencoba di urai satu persatu
Terlalu banyak hal yang terjadi
Bisa dimengerti atau bahkan tidak
Aku tak perlu menjelaskan
Dan kau juga tak pernah pertanyakan
Apa yang sedang kulalui
Bukan karena sudah tak ingin berbagi
Hanya tak ingin kamu terbebani
Biarlah semua yang sedang terjadi
Berjalan sesuai yang Dia tulis
Keadaan mungkin bisa berubah
Tetapi hatiku masih tersimpan untukmu
Semoga rasamu masih seindah kemarin

Si Pak Bro

















Kali ini curhatan tentang satu keluarga tetangga yang bisa di bilang "wagu"
Sebut aja namanya Pak Bro sama Bu Bro *senyum dulu bentar*....

Pak Bro dan Bu Bro ini tipe pasangan yang ngga suka bergaul (katanya ngga penting buat kata ngrumpi :D) sama tetangga, saking ngga sukanya... mereka justru sama sekali ngga pernah keluar dari "istana" nya itu... *ah, siapa tau cihuy terus di dalem* .....#pengen ngintiiiiipp yaaaa....#

Naaaahhh...., story punya kata...(katanya si anu, si inu, dan si unu....)*halaah...belibet* 
si Pak Bro ini punya "bola bekel" baru tuh..., dan ternyata suatu saat kepergok tuh lagi main bola bekel terus bla bla bla bla.... *hayoooooo.....lagi napain disitu....* (kalo kata PaiBleh auan...auan....transleteen dewe) yo malu lah si Pak Bro nya... 
Daripada kabar burung itu jadi burung beneran....ya mending si Pak Bro pasang tampang sangar dulu lah biar yang liat dia dan mau lewat didepan dia keder duluan #secara "tanda seru" itu Pak Bro berbody tinggi, gede, item*hiiiiyy*#. Udah gitu, yang namanya orang salah, bukannya minta maaf dan cari temen, ini si pak Bro malah cari musuh, semua temennya ditanya dan ditantangin deh wkwkwkkwk..... 
Ya iyalah semua menyingkir dari depannya (bukannya takut tapi mualeeess) daripada berurusan sama bodyguardnya yang punya kedudukan sedikit lebih tinggi daripada si Pak Bro...*ngelirik si asisten*
Makin lama makin capek kali ya si Pak Bro berakting, aslinya deh keluar....#nyari bolo gelut kalo boso ndesone# tapi sayang bin kasian, bolonya terlanjur mlongo males kaleeee....

Sekali waktu ketemu sama diriku yang cuantik ini....*mematut diri*, kebetulan daku dianter sama "si bos", eeh... ketemu sama si Pak Bro, tapi tumben si Pak Bro mau bermanis-manis busuk ke daku setelah sekian lama berjutek-jutek ria (pikirnya si Pak Bro; kesempatan neh bales skak ke daku) "baru pulang jam segini..? Pantesan pulang malam terus, yang nganter mobilnya lebih keren"  tanya si Pak Bro pada Putri Cuantik ini #wkwkwkwk....,kenapa dikau bilang gitu Pak Bro 'pikirku' itu justru akan membunuhmu#
Ya dijawablah pertanyaan yang 'bermaksud' menjatuhkan harga diri si cuantik ini.... 
"Ya iya dong Pak Bro..., emang saya kaya situ ...!!saya seh ogah kalo cuma dimodalin kunci kamar mandi"
#gubraakkk...jeglllleeeerrr....gloodaakkk...krompyaaang# segala bunyi mampir dah tuh pasti ke kuping beliau... Tegang, asem tapi warnanya ngga berubah jadi merah tuh muka (gaaakkk keliiaataannn, si Pak Bro kan iteeemmm) lho...lho...lho... Kok main kabur aja Pak...? Kebelet mau pipis ya..... *ngakak nggledag*

Naaahhh...sodara sodara...sejak malam terindah itulah si Pak Bro kalo liat Tuan Putri yang cuantik ini melenggang mau melewati 'istana' milik beliau.... Si Pak Bro nya buru-buru ngacir biar ngga sempet ketemu dan mati kutu lagi. Pernah suatu kali si Pak Bro lagi asik nungging menyiksa rumput didepan rumah mereka, ngga sengaja juga mungkin si Pak Bro nengok dan liat kalo ada bidadari yang mau lewat, ngga ngerti deh antara takut atau malu si Pak Bro langsung ambil langkah cepek mau kabur, tapi sepertinya si Pak Bro ngga sempet lari #kram kakinya kali# ya jongkok-lah si Pak Bro di balik pager miliknya. Dia pikir udah ngga keliatan kali ya padahal tu body jelaslah cukup keliatan, secara sosok hitam di siang bolong.... Haghaghagagagaaaa.....

Udahan dulu ah.....
Ayo yang ngaku berburung, harus berani terbang duong...tunjukkan ke'burung'anmu alias kejantananmu le... Jangan ganti kostum 'barbie' kalo lagi kena masalah...woke...mari Pak Bro... (salam burung buat si bola bekel ya :D)

Thursday, June 9, 2011

Kekuatan Dan Cinta Untukku


Saat terbangun di ujung malam, rasa sakit itu datang lagi, dan entah akan sesakit  apa setelah itu, aku hanya mampu berserah... Terima kasih Bapa aku masih bisa merasakan rasa sakit ini, tapi kalau boleh aku meminta ambillah cawan ini dr padaku. Mencoba kembali untuk terlelap tapi tak mampu... Hanya mata terpejam tetapi telinga ini masih dengan sangat jelas mendengar detik demi detik jarum jam berputar, berpindah dari angka yg satu ke angka yg lain. Fajar mulai tampak disela sela awan malam, sebuah usapan tangan mungil singgah di pipiku;
  "kok mami panas banget, sakit ya kepalanya" 
bibirku hanya menjawab dengan senyum, dan dia kembali terlelap bersama mimpinya.


Waktunya si kembar harus bangun, mandi dan makan pagi, seperti hari hari biasa, mereka melakukan semua rutinitas paginya dengan bantuan para pengasuhnya. Rutinitas wajib selesai dan waktunya mereka berdua bermain dan dalam hitungan detik mereka telah disibukkan dengan computer mereka lengkap dengan game yang mereka browsing dari internet. Setelah agak lama mereka disibukkan dengan gamenya sepertinya mereka sadar kalau ada yang lain di pagi itu, sesuatu yang tidak biasa dihari kerja dan bukan hari libur. Pintu kamar terdengar ada yang membuka dan langsung terdengar suara nyaring mereka dan saling berebut untuk menyapaku dan bertanya;
 “mami sakit ya?”
 “mami kok belum bangun, kan udah siang”, 
 "mami kok nggak kerja sih?”, 
 "kok jendelanya masih ditutup?”

Huuuuufft…. Sedikit bising mendengar mereka bicara seperti itu, sedikit beruntung aku saat salah satu pengasuh mereka masuk ke kamar dan menggandeng tangan mereka berdua, dia mencoba untuk mengajak si kembar keluar dengan berbisik; 
 “ssssttt….., kakak sama dedek jangan rebut dikamar, 
  mami lagi sakit, kita mein diluar aja ya…” 
akhirnya tenang juga ruangan ini, ada harapan buatku untuk bisa terlelap sejenak untuk membuat kondisiku lebihi baik. Tapi belum ada lima menit, pintu kamar kembali terbuka, dan salah satu dari si kembar menghampiriku, tangan mungilnya kembali membelai kepalaku sambil berkata; 
 “mami tidur aja ya, biar sembuh ya, 
  kakak tinggal dulu ya,berani kan dikamar sendiri?” 
dan kujawab dengan anggukan pelan saat itu.

Saat si kakak menuju ke pintu kamar, belum sempat kudengar pintu kembali ditutup kudengar ada suara bisikan diluar pintu, semakin kudengarkan semakin jelas itu suara dedeknya dan beberapa kata mampir di telingaku;
 “kakak, biarin aja jendelanya kamar mami jangan dibuka, 
  lampunya juga jangan dinyalain, 
  nanti kalo kena sinar maminya silau lho, 
  jadinya kepalanya nanti tambah sakit”
hahahhahahaaa……seketika tertawa aku dalam hati mendengar bisikan itu, ide dari mana anak-anakku berfikir dan bicara hal konyol seperti itu…., mungkin karena mereka pernah nonton salah satu film bertema “vampire” makanya mereka pikir maminya seperti itu, tapi sebenernya hal itu memang benar adanya, penglihatanku terlalu sensitive jika terkena sinar saat sakit ini menemaniku, ya walaupun ngga se ekstrim si mr.vampire itu...

Saatnya tidur siang adalah saat yang paling mereka benci, karena tidur memang hal yang paling mereka ngga suka melakukannya. Tapi sekali panggilanku pada mereka bisa membuat mereka masuk kekamar yang kebetulan tepat berada disebelah kamarku. Rutinitas yang selalu mereka lakukan sebelum tidur adalah berdoa, tapi siang itu doa mereka terdengar janggal buatku karena kalimat yang mereka ucapkan bisa membuat aku berada dalam satu perasaan yang bercampur antara terharu, geli an sedikit jengkel, tapi tetap saja doa mereka adalah terbaik dimata Tuhan. Begini bunyi doa mereka;
 “Tuhan Yesus, kakak sama dedek mau bobok siang, 
  minta berkat. 
  Tuhan Yesus mami aku sakit, disembuhin yaaa, 
  jangan dimatiin ya mami aku, nanti nggak ada 
  yang marahin papi, disembuhin aja yaaa. A min” 
dan dilanjutkan doa “ Bapa Kami dan Salam Maria” oleh mereka.
Saat mereka selesai berdoa masih dari tempat tidurku aku katakan sama mereka;
 “Terima kasih doanya ya Kak, Dek… 
  Mami pasti disembuhin sama Tuhan kok, 
  selamat tidur siang”
dan kembali terdengar sahutan mereka bersamaan;
 “sama-sama mami, ai lop yu mami”
 ”luv u too DaVie”
Terbangun saat menjelang senja dan mencoba untuk bisa bangkit dari tempat tidurku, perlahan menuju ruang keluarga dan terlihat si kembar sedang nonton acara kesukaan mereka “Clubhouse Disneyland”, melihatku mereka langsung berlomba untuk mencari perhatianku;
 “eh, mami udah bangun ya….”, 
 “mami mdiambilin minum apa? Bilang aja sama aku”, 
 “iya bilang aja sama aku nanti aku ambilin”, 
 “masih sakit kepalanya ya?”, 
 “mau minum kopi?”
ups…..banyak sekali nak pertanyaan kalian, mami masih malas membuka mulut, kataku dalam hati. “nggak usah, mau duduk aja” dan jawaban itu ternyata membuat kalian kembali disibukkan dengan acara tv kalian sedangkan dalam hatiku agak sedikit tergoda dengan tawaran terakhirmu nak  
“mau minum kopi…???” “mauuuuu bangeeeeetttttt………!!!!!”
hahahhahaaa……tapi ngga bisa sekarang dan cuma dalam hati.

Kembali kupandangi wajah kalian saat tidur, begitu tulus dan polos, terbayang kembali beberapa ulah kalian yang kadang membuat aku harus sedikit menahan emosi, kadang membuat aku meneteskan air mata saat melihat kalian sedang sakit, tertawa saat kalian benar-benar berulah, tapi malam itu aku benar-benar bersyukur Tuhan mengirimkan aku kalian berdua. Kalian yang membuat aku bisa berdiri sampai saat ini, bisa tersenyum sampai saat ini dan bisa berjalan sejauh ini. Kalian tidak akan tergantikan oleh apapun dan siapapun.

*Tulisan ini hanya sedikit dari apa yang sebenarnya kurasakan sejak Tuhan menitipkan dua Malaikatnya de Vercellio untuk menjadikan aku sempurna sebagai wanita dan menjadi manusia yang penuh dengan rasa syukur*


DaVie

Seperti biasa, kalau sore hari setelah selesai mandi kami ngobrol di teras depan.
"peyek bu..?? Asli dari jogja" seorang nenek mampir didepan pagar rumah yang sedikit terbuka.
"terima kasih nek, lain kali ya"....bukan karena nggak doyan tapi memang karena di rumah lagi banyak camilan.
Setelah si nenek pergi tiba-tiba DaVie barengan bilang; "kasian neneknya mami, beli aja...kasian neneknya..."
Sejenak terdiam & tanpa disuruh DaVie keluar pagar dan teriak manggil si nenek buat balik lagi.
"sini nek masuk, aku mau beli, nenek haus ya, tunggu ya..." ( Darren masik ambil aqua gelas buat si nenek )
Masih ngga bisa bilang apa apa sampe si nenek bertanya; "beli berapa bu peyeknya....??"
Yang akhirnya terbeli juga beberapa kantong peyek jualan nenek itu...
Setelah si nenek pergi, aku pikir DaVie mau makan peyek itu tapi pas aku buka dan tawarin mereka jawabnya bikin kaget...."nggak mau ah, aku kan cuma kasian aja sama neneknya, mami kasih emak sama tante aja deh peyeknya"

"Tuhan Jesus, terima kasih, dibalik kelakuan mereka yang setiap hari hampir membuatku meledak-ledak karena marah DaVie masih memiliki hati untuk berbagi dan mengasihi orang lain. DaVie....luv u le...."

Wednesday, June 8, 2011

Musibah Itu Sebuah Pelajaran Berharga


(dedicated to Ingelia)

Terdiam aku melihatmu terbaring lemah, dengan mata tertutup rapat dan sedikit luka memar ditubuhmu. Diatas tempat tidur yang putih bersih dan masih dengan selang infus melekat ditubuhmu. Tetapi semua sudah lebih baik dari hari kemarin. Mereka bilang kamu sudah mampu tersenyum, bahkan kamu telah mau untuk sedikit berbicara. 

Anganku dipaksa untuk kembali pada suasana malam itu, malam dimana semuanya begitu kacau, suara teriak minta tolong dan suara tangis terdengar bergantian  ditelingaku, mataku dipaksa menatap kejadian tragis itu. Saat sebuah kereta dalam kota melintas didepanku. Terlihat seperti tidak terjadi  apa-apa karena tidak ada sisa sedikitpun ditempat itu.

Beberapa detik setelah kereta itu berlalu terdengar derit suara besi beradu dan dalam hitungan detik terdengar sesuatu yang berat jatuh dari kereta yang baru saja  melintas. Dalam hitungan detik tempat itu berubah menjadi sebuah  kerumunan manusia. Tatapan kesedihan terpancar dari wajah-wajah mereka, meskipun mereka bukan siapa-siapa. Mencoba menyibak kerumunan dan mencari tau apa yang sebenarnya terjadi.

Sebuah mobil keluarga yang mencoba melintas dijalan sepi itu, tanpa peringatan  dan tanda sedikitpun, berpapasan dengan sebuah kereta dalam kota yang melintas dengan  kecepatan tinggi dan menyambarnya, mobil yang tadi sempat terlihat melintas dijalan sepi itu bukan tak terlihat karena telah berhasil melewati jalanan itu, melainkan tak terlihat lagi karena terbawa dan terseret ratusan meter disamping kereta itu. Miris melihat kondisi mobil yang hancur disatu sisinya karena beradu dengan badan kereta. 

Tangan tangan cekatan dan berjiwa mulia berusaha membuka sisi pintu mobil yang masih bisa dibuka, mencoba menyelamatkan beberapa korban yang ada didalamnya. Dengan transportasi dan peralatan seadanya mereka mencoba membawa keempat korban (yang keempatnya tidak lain merupakan satu keluarga) ke sebuah rumah sakit terdekat yang ada disekitar dilokasi kejadian. Terbentang pemandangan mengenaskan di dalam ruang emergency rumah sakit dalam kota itu, yang terdengar hanyalah suara rintihan menahan lara, seorang wanita setengah baya (terakhir diketahui sebagai istri dan ibu dari korban yang lain) terbaring diam, tanpa suara, seluruh tubuhnya tertutup kain seadanya, hanya sebagai tanda bahwa beliau telah berpulang ke rumah Bapanya.

Seorang anak laki-laki remaja terlihat bertarung melawan maut, berkawan belasan selang yang melilit tubuhnya dan beberapa peralatan medis yang menopang seluruh tubuhnya. Tetapi itupun tak bertahan lama. Persis satu jam dia berada di ruang ICU, yang pada akhirnya dia menyerahkan seluruh hidupnya pada Bapanya di surga. Bersama sang Bunda pergi untuk selama-lamanya, meninggalkan Ayah dan Kakak perempuannya yang masih terbaring lemas, yang berjuang untuk mengalahkan rasa sakit yang tengah menghimpitnya.

Sesaat sang Ayah mulai tersadar dan kembali mencoba mengingat apa yang telah terjadi dengan dia dan keluarganya, mencoba mencari keberadaan istri tercintanya dan kedua buah hati mereka. Pandangannya terhenti pada salah satu tempat tidur dengan seseorang terbaring dengan tertutup kain, entah kenapa perasaannya sangat kuat saat melihat sosok yang terbujur diatas tempat tidur itu, dia seperti ingin membuka kain penutupnya tapi dia tak mampu menggerakkan tubuhnya.

Tidak tau lagi apa yang kala itu dia rasakan didalam hatinya, saat sebuah kalimat tersusun rapi mengalir dari salah satu Dokter di Rumah sakit itu menjawab Tanya darinya…..
“Putri Bapak ada dalam ruang perawatan intensif dan belum sadarkan diri, dia hanya menderita memar dibeberapa tempat, tetapi kami pihak Dokter dan paramedis mohon maaf karena dengan sangat menyesal kami harus menyampaikan bahwa istri dan putra bapak tidak bisa bertahan, kami telah berusaha semampunya tetapi Tuhan berkehendak lain atas mereka, mereka berdua telah meninggal.”
Tidak akan pernah ada kata bahkan kalimat sekalipun yang sanggup mengungkapkan apa yang dirasakan sang Ayah kala itu. Hanya tampak duka dan penyesalan yang sangat dalam pada gurat wajah pria yang sudah mulai menapak usia 40 tahun itu.

Seorang perawat membantu mengantarnya untuk melihat kondisi istri dan putranya. Tanpa dia sadari lamunannya membawa dia kembali kebeberapa jam sebelum dia dan keluarganya berada ditempat ini. Kekhusyukan keluarga mereka dalam sebuah acara keagamaan di sebuah Gereja, kebersamaan dan keceriaan mereka dimeja makan salah satu restoran ternama dikota itu. Kebersamaan yang paling indah yang pernah dia rasakan dalam hidupnya. Tetapi dia sangat tidak pernah menyangka keindahan kebersamaan malam itu adalah kebersamaan terakhirnya bersama Istri dan putranya. Kebersamaan yang berakhir dengan sebuah duka yang sangat dalam baginya.

Tertunduk di depan kedua jasad orang-orang yang dicintainya, tanpa tau lagi apa yang akan dan harus dia lakukan. Air matanyapun tak mampu mewakili seluruh perasaannya saat itu. Sampai seseorang menyentuh lembut bahunya dan berkata;
“Tuhan telah meringankan penderitaan mereka, dan sekarang mereka tidak akan pernah lagi merasakan sakit, relakan mereka dan serahkan semua pada Tuhan, masih ada putrimu yang akan sangat membutuhkanmu disampingnya.” 
Seketika tersentak tubuhnya saat mendengar kata “putrinya”. 


Masih diatas kursi rodanya, dibantu saudaranya menuju sebuah ruangan, terhenti didepan sebuah jendela kaca yang tertutup tirai tipis, seorang gadis terbaring lemas dengan mata tertutup rapat dan sebuah selang infus. Sedikit balutan perban terlihat menutup salah satu sisi tangannya.Terucap rasa syukur pada Tuhan masih memberikan putrinya kesempatan untuk bersamanya. Seorang putri yang akan menemaninya sampai masa tua menyambutnya, putri yang akan memberikan dia sebuah kekuatan untuk bisa tetap melangkah, menyusuri setiap jalan yang memang harus dilaluinya dengan senyuman.

Kembali tertunduk, tetapi kali ini dia merangkai sebuah doa untuk segala sesuatu yang terbaik baginya dimasa ini dan yang akan datang. Jemari tangannya perlahan mulai meniti butir-butir rangkaian Rosario yang selalu ada dalam genggamannya sejak beberapa saat setelah dia tersadar dari pingsannya. Bait demi bait kalimat doa mengalir dari bibirnya, sebuah doa tentang rasa syukurnya, sebuah doa tentang kepasrahan yang dia punya dan kekuatan batin yang didambanya. Lirih hampir tak terdengar, tetapi begitu tulus. Semua mengalir begitu saja. 

Sebuah Malam dalam suatu pergantian hari yang tidak akan pernah terlupakan  dalam hidupnya. Melewati malam dengan sebuah kejadian yang tak pernah ada dalam rencananya, bahkan membayangkan kejadian ini sekalipun tidak akan pernah mampu. Sebuah kejadian yang mengubah hidupnya dalam sekejap mata. Sebuah kejadian yang tidak perlu dicari kesalahan berada pada siapa, dan memang tak perlu menyalahkan siapa-siapa.
Ya….. rencana Tuhan tidak pernah ada yang tau dan hanya dengan doa kita bisa dan mampu melewati semuanya.

Saat hari mulai menyambut sang fajar, mulai  berdatangan support dari berbagai pihak dan semua itu membuatnya semakin kuat. Masih setia disamping tempat tidur putrinya, berharap jangan pernah ada sebuah tanya tentang malam itu, satu tanya yang tak pernah dia harap terucap untuknya, meskipun dia sangat sadar cepat atau lambat putrinya akan sadar. Belum sempat dia memikirkan apa yang akan dikatakannya jika putrinya sadar suara lirih itu mengejutkannya “Papa, aku dimana….??? Mama mana..?? Dedek mana…??” (“Tuhan Yesus….apa yang harus aku katakan...??”) tanyanya dalam hati. Pertanyaan yang bagaimanapun caranya dia memberikan jawab pasti akan menyakiti hati putrinya. Hanya diam yang mampu dilakukan mengiringi senyum kecut di bibirnya dan rasa sakit yang menyayat didalam hatinya. Belum sempat terucap kata dari sang Ayah, entah apa yang terlintas di benak putrinya sehingga membuat putrinya tiba-tiba berteriak dengan histeris, tak terkontrol seperti teringat akan sebuah kejadian yang sangat mengerikan didepannya. Sesaat beberapa paramedis datang, tetapi bukan sebuah pengertian atau jawaban yang mampu membuat putrinya tenang, melainkan mereka datang untuk memberikan suntikan obat penenang. Dan itu berlangsung setiap saat setelah putrinya tersadar yang sejujurnya membuat hatinya semakin sakit.

Dilain tempat pihak keluarga mengurus pemakaman Istri dan Putranya, dan dia mengurus kepindahan perawatan putrinya ke sebuah Rumah Sakit yang lebih dekat dengan rumahnya. Disela-sela waktunya, dia menyempatkan diri untuk bisa melihat dan mendoakan Istri dan Putranya di Rumah Duka untuk yang terakhir kalinya, dimana kedua orang yang sangat dicintainya disemayamkan sebelum nantinya akan dimakamkan di sebuah Pemakaman Umum di kota itu. Dalam kedatangannya yang terakhir dia hanya mampu ucapkan ;
“ Selamat jalan Mama, terima kasih sudah menjadi wanita terbaik di dalam hidup Papa dan Putra Putri kita seumur hidupmu, tersenyumlah di Surgamu… , Selamat Jalan Putraku, terima kasih sudah menjadi Matahari Papa selama kamu hadir dalam keluarga kita, tersenyumlah di Surgamu bersama Mama, Papa dan Kakak sayang Mama dan Dedek ” dan dia mengakiri pertemuan terakhir itu dengan ciuman terakhir pula untuk Istri dan Putranya.

Dengan langkah seringan mungkin sang Ayah kembali ke kamar Putrinya, untuk kembali mengurus semua yang diperlukan dalam kepindahan perawatannya.

Hari itu adalah hari pemakaman orang-orang yang dicintainya tapi dia rela tidak menghadiri upacara pemakaman itu demi putrinya, demi kepulihan putrinya yang sudah lebih baik, demi menjaga perasaan putrinya yang sampai hari itu belum tau bahwa mama dan adik laki-lakinya telah meninggalkan mereka untuk selama-lamanya.
Ya, putrinya hanya tau bahwa Mama dan Saudara laki-lakinya sudah pulang dan beristirahat dirumah. Bahkan saat pemakaman itu berlangsung, Putrinya sempat katakan kepada tantenya yang setia menunggunya bahwa adiknya sempat datang dan menjenguknya tapi hanya memandangnya dari luar pintu dan tidak mau masuk ke dalam kamar dimana dia dirawat. Ingin menangis rasanya mendengar Putrinya berkata seperti itu, tapi dia harus mampu untuk menahan semua rasa yang berkecamuk didalam hatinya.

Saat ini dia hanya mampu berdoa dan berdoa. Mohon supaya Tuhan memberikan jalan terbaik, cara terbaik bagaimana dia harus menyampaikan semua berita duka ini saat putrinya pulih kondisi fisiknya, mohon semoga putrinya mampu dengan besar hati menerima segala kondisi yang saat ini memang harus dihadapi.
Dan Putri itu adalah kamu, kamu yang saat ini terbaring didepanku, terlelap diatas tempat tidurmu. Kamu harus mengerti, perjuangan seorang Ayah untuk membuat kamu Putrinya tetap tersenyum disaat duka yang dialaminya teramat dalam adalah hal tersulit yang harus dilakukan.


Segala hal yang telah terjadi adalah sebuah pelajaran berharga baginya. Apapun yang kita miliki akan hilang dari hadapan kita kalau Tuhan telah mengambilnya.

Wednesday, May 4, 2011

Kebahagiaan Sejati Yang Kumiliki
















Saat semua bisa kumiliki
Saat segalanya bisa aku dapatkan dengan mudah
Apapun bisa aku beli dengan harta yang kupunya
Saat aku bisa membuktikan
Aku mampu dapatkan sebuah jabatan penting
Dalam jenjang karier yang kujalani
Mendapatkan segala fasilitas yang ada
Ternyata tidak mampu membuatku
Tersenyum dengan tulus
Ada ruang kosong dalam diriku
Yang tak mampu terisi dengan semua hal itu
Ada sesuatu yang hilang dari jiwaku
Yang tak mampu tergantikan oleh apapun

Tak bisa kupersembahkan
Waktu terbaikku untukmu
Tak pernah kulihat gelak tawamu
Tak pernah kunikmati polah tingkahmu
Tak pernah kudengar jeritan tangismu
Tak pernah lengkap kuikuti perkembanganmu
Hanya sisa waktu bersama letihku
Yang kamu dapatkan dariku
Selalu pergi meninggalkanmu
Saat kamu belum sempat membuka matamu
Hanya mampu memandangi lelap tidurmu
Menciummu dengan sisa rasa lelah
Disaat kamu  terbangun menyambut mentari pagi
Dan membuka kedua matamu
Kamu tak pernah menemukanku
Berada bersamamu dan menemanimu

Kita tak pernah bertatapan
Apalagi bercanda bersama
Saat diakhir minggu kita bisa bertemu
Kamu hampir tak mengenali siapa aku
Saat aku bersamamu
Dan ingin lebih dekat denganmu
Kadang penolakan yang kudapat darimu
Taukah kamu sayang….
Itu adalah saat yang sangat menyakitkan bagiku

Aku yang seharusnya menjadi orang terdekatmu
Tetapi kamu ternyata tidak mampu mengenaliku
Aku yang seharusnya menjadi wanita terbaikmu
Tetapi kamu tak pernah merasa memilikiku
Saat itu aku menyadari
Apa yang aku bisa raih selama ini
Semua tidak mampu membuatmu menjadi milikku
Tidak mampu membuatmu tersenyum bangga
Semua harta dan jabatan yang aku punya
Tak mampu membuatku menjadi wanita sempurna
Tak bisa membuatku menjadi wanita terdekatmu
Dan disitu aku sangat mengerti
Apa yang harus aku lakukan

Ya benar….
Kutinggalkan semua prestasi
Yang selama ini telah kuraih
Kulepaskan semua kesibukanku
Dan aku bisa dapatkan kembali
Apa yang sudah hilang dariku selama ini
Meraih apa yang selama ini tak pernah kumiliki
Aku bisa menikmati gelak tawamu
Masuk ke dalam dunia canda tawamu
Bahkan sempat mendengar tangis manja dan marahmu

Sebuah kebanggaan buatku
Saat kamu membutuhkan aku
Dan aku mampu berikan apa yang kamu ingin
Sebuah kebanggaan lagi untukku
Saat kamu memelukku dan berkata
 “aku sayang mami”

Terima kasih Tuhan
Ternyata pengorbananku selama ini
Mampu membuat aku
Menjadi seorang wanita yang paling berbahagia
Keputusan yang aku ambil
Adalah keputusan yang paling tepat dalam hidupku
Kekayaanku saat ini …
Bukan pada nominal yang aku hasilkan
Kebanggaanku saat ini …
Bukan lagi pada tingginya jabatan yang kusandang
Tetapi kebahagiaan sejatiku
Adalah aku bisa menjadi wanita terbaik
Menjadi wanita yang terindah bagi mereka
Bagi anak-anakku yang sangat membutuhkan aku
Memiliki waktu untuk mendampingi perkembangan mereka
Membuat mereka berhasil menjadi dirinya sendiri

Terima kasih Tuhan
Saat ini aku mampu mengerti
Bahwa hidup ini adalah sebuah pilihan
Apa yang ingin kita dapat dan rasakan
Adalah awal dari sebuah sikap
Untuk menentukan sebuah keputusan
Langkah apa yang akan kita lakukan
Untuk kita bisa dapatkan
Apa yang ingin kita rasakan…