Showing posts with label memaafkan. Show all posts
Showing posts with label memaafkan. Show all posts

Saturday, October 16, 2021

Kedamaian Hati

  


 

 

 

 

 

 

 

 

 

Jika ada seseorang yang merasa keberatan saat kita dekat dengan pasangannya meskipun sebenarnya kita merasa bahwa dia hanya seorang relasi dalam pekerjaan di kantor, maupun dalam sebuah pelayanan rohani.

Hal pertama yang kita lakukan adalah minta maaf untuk ketidaknyamanan mereka. Minta maaf tidak berarti kita selalu salah tapi karena kita tidak tau apa yang kita lakukan selama ini membuat hidup orang lain berada dalam ketidakharmonisan dan ketidaknyamanan.

Yang kedua merubah sikap dan jaga jarak dengan orang yang dimaksud tanpa mengumbar keberatan pasangan orang tersebut  kepada orang lain yang ada disekitar kita. Apalagi sampai mencari dukungan karena merasa apa yang kita dilakukan adalah benar dan yang keberatan adalah pihak yang salah. Itu hanya akan menambah luka dan kita sudah menjadi sumber masalah yang seharusnya tidak perlu ada.

Tetap menjaga hubungan baik dan bersikap baik dengan relasi kita dan pasangannya, meskipun bersikap baik tidak selalu harus disertai dengan kedekatan.

Cukup kita dan pasangan tersebut yang tau bahwa ternyata kehadiran kita tidak selalu bisa diterima oleh semua orang. Dan kita harus bisa memahami situasi tersebut karena tidak semua orang memiliki pola pikir serta pengalaman hidup yang sama. Bersikap seperti itu bukan berarti kita kalah atau salah, tetapi untuk beroleh hidup damai, dan setidaknya kita tidak menjadi sumber luka bagi siapapun.




Wednesday, February 8, 2017

BERKACA SEBELUM BICARA















Situasi yang memanas dalam sebuah kasus, terkadang membuat kita "gatel" untuk berkomemtar, meskipun kita tidak tau apa yang sesungguhnya terjadi dan seperti apa kebenarannya. Tetapi hanya dengan modal baca judul headline di media masa atau media sosial ada beberapa dari kita yang berani mengatakan sebuah kasus adalah rekayasa atau setingan, hanya karena kita berada pada salah satu pihak yang sedang bermasalah tetapi tidak mengerti kebenaran dan duduk permasalahan yang sesungguhnya.

Hellooo.....
Berkaca lagi yuk sahabat....gimana hidup kita....sudah pantas belum kita berkomentar seperti itu terhadap kehidupan orang lain...
Bolehlah sekarang diam sejenak, coba membayangkan posisi kita ada pada mereka yang sedang tertimpa kasus (apapun kasusnya) Gimana perasaan kita yaaa.....? Lha..... kita dikasih tanggung jawab menjaga, menghidupi, mensejahterakan dan bertanggung jawab sama keluarga kita aja terkadang kita belum mampu. Kenyataannya....berat sedikit ngeluh di medsos, susah sedikit ngeluh di medsos, berantem sedikit dikeluarga ngeluh di medsos, seakan-akan kita sudah menerima cobaan yang paling berat dan butuh dikasihani.

Coba sekarang dibalik kondisinya, seandainya kita yang seneng berkomentar rekayasa atau setingan ini berada di posisi mereka yang sedang tertimpa kasus..... mampu ndak ya kita melewatinya....??!!!
Maka dari itu...sudahlah sahabat.....berhenti menebar kebencian dengan menambahkan kata "rekayasa dan setingan" dalam sebuah kasus, jika kita tidak mengerti bagaimana sebuah kebenaran itu ada.....itu hanya akan memperbanyak koleksi dosa kita aja....

Soal rekayasa atau setingan sebuah kasus yang tidak melibatka kita, apa hubungannya dengan kehidupan dan surga kita nanti sahabat....??? Jika itu benar rekayasa atau setingan, itu urusan mereka, si pembuat cerita itu sama Tuhan.Tetapi jika itu bukan sebuah rekayasa dan setingan kita ikut berperan membunuh masa depan seseorang.

Dan jangan salah.....
Waktu itu berputar. Terkadang Tuhan harus memberikan kita hal yang sama pahitnya yang sekarang dialami orang lain dan kita katakan setingan atau rekayasa supaya kita tau bagaimana rasanya di posisi itu, dan kita belajar menghargai kehidupan orang lain.

Kebenaran tidak terletak dari berapa banyak orang yang berada di pihak kita, tetapi ada pada kebenaran itu sendiri. Maka tidak perlu kita mengingkari sebuah kebenaran dengan sebuah hasutan yang justru menutup kebenaran itu sendiri.

Jika kita terbiasa menuduhkan hal negative terhadap orang lain, sesungguhnya kita sendirilah yang melakukan hal itu, hanya kita terlalu sombong untuk menyadari kelemahan kita.
Jika kita tidak bisa membantu orang lain setidaknya kita jangan ambil bagian untuk menghancurkannya.....

Wednesday, January 20, 2016

Hidup Harus Berubah




















Beberapa malam kemarin dikagetkan oleh kedatangan salah seorang pelaku "child abuse", kalimat tulus yang terucap dari mulutnya membuatku semakin kagum karena keberaniannya mengakui kesalahan, dan minta maaf atas kesalahan yang sudah mereka perbuat.

"Tante, ****** turut berduka cita, maaf ****** baru datang sekarang karena tadi mau kesini masih rame, ****** masih takut & malu."
Terima kasih nak atas keberanianmu datang demi mengucapkan bela sungkawa atas orang yang pernah mengurus hidupmu beberapa waktu. Minimal itulah tanda terima kasih darimu buat beliau yang telah kembali ke Surga Nya.

Melihat para korban yang pernah dia & partnernya sakiti beberapa waktu lalu sedang sibuk bermain tanpa mengacuhkan kedatangannya (entah karena alasan apa, semoga karena mereka sadar karena tidak akan mendekati pembuat luka agar tidak kembali dilukai), dia pun kembali berucap dengan raut muka penuh penyesalan"adek-adek sepertinya masih marah sama ******, sekali lagi ****** minta maaf karena ****** & xxxxx sudah menghancurkan masa depan mereka berdua."

Ah nak....permintaan maaf dari kamu karena kesalahanmu itu sudah cukup, kamu tidak perlu memintakan maaf buat temanmu itu. Mau berdalih apapun dia kami sudah tau DIA BERSALAH dan tanpa permintaan maaf dari dia sekalipun KAMI SUDAH MEMAAFKANNYA, semua kami lakukan demi masa depan adek-adekmu.

Jika kamu masih terbebani karena "partnermu" dalam merusak masa depan anak-anak tidak bersalah ini, masih tidak mau mengakui kesalahan yang kalian lakukan, maka sekarang lepaskanlah bebanmu, karena Tuhan tidak akan menghukummu karena kesalahan "partnermu", tetapi Tuhan telah memaafkanmu karena kamu mengakui kesalahanmu dan bertobat atas kesalahanmu.

Wednesday, May 27, 2015

Kita dan Anak





























 
Ketika seorang anak "mencuri",
Itu karena tidak pernah diajarkan bagaimana seharusnya bersyukur
Ketika seorang anak "merampas"
Itu karena tidak pernah diajarkan bagaimana caranya berbagi
Ketika seorang anak "memperkosa"
Itu karena tidak pernah diajarkan bagaimana caranya menghargai
 
Ketika seorang anak "berbohong"
Itu karena tidak pernah diajarkan pentingnya sebuah kejujuran
Ketika seorang anak melemparkan kesalahan pada orang lain
Itu karena tidak pernah diajarkan untuk bertanggung jawab
Ketika seorang anak senang memukul
Itu karena tidak pernah diajarkan bagaimana caranya merawat dan menyayangi

Tanggung jawab menjadi orang tua itu tidak mudah
Anak akan melakukan hal yang benar ketika kita sebagai orang tua mengajarkan kepada mereka mana yang salah dan mana yang benar.
Anak akan berlaku dan berkata baik ketika kita sebagai orang tua berlaku baik bukan hanya didepan anak melainkan juga dibelakang anak kita.
Anak akan menjadi kebanggaan ketika kita sebagai orang tua bisa dibanggakan oleh mereka.

Apa Adanya itu Damai

-- photo : koleksi pribadi --


Simbok ndak punya banyak cara
Untuk membuat orang menjadi iba
Karena simbok tidak biasa
cari muka apalagi bermuka dua

Simbok hanya orang biasa
Yang hidupnyapun biasa saja
Asal usul simbok cuma dari desa
Tapi ndak pernah ganti nama
Cuma karena sudah hidup dikota

Simbok sudah terlalu renta
Untuk hidup dengan banyak gaya
Apalagi harus main sandiwara
Simbok sudah cukup bahagia
Bisa hidup apa adanya

Tuesday, May 26, 2015

SUPPORT -- Part 15 --
















Sebelumnya di Support-part-14

*Kasih dan Pengampunan*

Biarawati:
  "K-ed, kenapa K-ed tidak gambar tentang kakak M"
K-ed:
  "Karena kakak M sudah minta maaf dan aku sudah memaafkan kakak M"
Biarawati:
  "K-ae harus mau memaafkan kak A, meskipun kak A tidak minta maaf."
K-ae:
  "Tapi aku maunya kakak A dipenjara"
Biarawati:
  "Biar nanti Tuhan Yesus yang menghukum kakak A"
K-ae:
  "Terus nanti kakak A nya diapain?"
Biarawati:
  "Tuhan Yesus yang akan memberi hukuman"

Sebuah percakapan yang terjadi pada sebuah proses pemulihan para korban kekerasan pada anak. Sangat jelas terlihat perbedaan pada kedua korban dengan dua pelaku yang berbeda.

Awal pertemuan, seorang biarawati berbicara pada para korban tanpa menyinggung luka hati yang para korban terima. Pada pertemuan pertama para korban diajak untuk lebih mengenal siapa Tuhan dan melihat karya & berkat yang sudah dilimpahkan Tuhan kepada kita. 

Melihat lebih dalam betapa baiknya Tuhan, 
yang selalu menyediakan dan memberikan 
apa yang kita butuhkan.

Tuhan adalah maha tau, 
yang selalu melihat apa yang manusia perbuat, 
bahkan yang tidak bisa dilihat oleh manusia lain, 

Tuhan tau kita melakukan hal baik dan hal buruk 
meskipun kita bisa membohongi orang lain 
dan mengatakan bahwa kita tidak melakukannya.

Tuhan maha pengampun, 
yang sanggup mengampuni mereka yang bersalah kepada-Nya, 
sekalipun mereka tidak mau 
mengakui kesalahannya dan mengucapkan permintaan maaf 
atas kesalahan yang sudah dilakukannya.

Tuhan maha penyayang, 
yang selalu menyayangi kita 
seperti apapun kondisi kita, 
kaya miskin, tua muda dan anak-anak, baik buruk, hitam putih 
semua Tuhan sayangi tanpa dibeda-bedakan.

Tuhan maha mendengar, 
yang mau dengan sabar mendengar seluruh perasaan kita, 
mendengarkan rasa syukur kita, 
mendengarkan keluh kesah kita, 
ketakutan kita dan rasa kecewa kita.

Ceritakan segala ketakutan, 
kecemasan dan kekuatiranmu kepada Tuhan, 
hanya kamu dan Tuhan yang tau, 
Tuhan akan simpan rahasiamu, 
berdoalah supaya Tuhan 
menghapus segala kekhawatiran dan ketakutanmu.

-- belajar iklas meskipun berat --

next.... 

Thursday, March 26, 2015

SUPPORT --part 12--




Sebelumnya di Support --part 11--

Dan ini gambar dari korban Child Abuse, 
dalam gambar-gambar ini hanya ada dua nama yang selalu disebut 
oleh para korban Child Abuse dalam setiap sesi therapi.
























SUPPORT --part 11--



 Sebelumnya di Support --part 10--

Lembaga-lembaga yang sangat membantu 
dalam proses pemeriksaan dan pemulihan korban Child Abuse.