Thursday, January 26, 2012

Galau (halaaah....)





Bersembunyi dalam hitam dosa
Menangis dalam rangkaian senyum
Tergelak diantara sayat kepedihan
Samar hampir tak tersentuh


Aku cinta kamu
Tapi aku bukan milikmu
Aku butuh kamu
Saat aku jauh darimu
Aku kangen kamu
Saat aku bersamanya


Sunyi diantara keramaian
Hampa dalam alunan tembang
Keikhlasan dari sebuah keterpaksaan
Kepasrahan dibalik ketidakberdayaan


Memaksa hati melepasmu
Melempar penat semua rasa
Mematikan segala keinginan tentangmu
Menghapus yang pernah terlukis


Kamu tak tergantikan
Mimpiku bisa memilikimu
Memeluknya dalam hampa
Menciumnya bersama bayangmu
Melewati semua tanpa cinta

Monday, January 2, 2012

Masih Cinta










 


Lama tak bicara tentangmu
Memuncak juga rasa dalam raga ini
Kangen dengan kesederhanaan kamu
Kangen dengan apa adanya kamu
Setiap kali ingin berbincang denganmu
Entah apa yang membuatku tertahan
Sekilas sapamu adalah senyumku
Merasakan rindu ini tersampaikan

Masihkan kamu dikota ini
Masihkah kamu mengingat semua tentang kita
:)
Mungkin sudah terlupakan
Atau bahkan mungkin telah tergantikan
Tapi tidak buatku
Kamu adalah nafas dalam hidupku
Kehangatan dam setiap aliran darahku
Saat kutakmampu menyapamu
Kutitipkan rasa cinta ini sama Tuhan
Kukatakan rasa rindu ini sama Yesus
Dia yang merawat semua rasa yang kupunya
Rasa yang tidak akan pernah bisa tergantikan
Oleh siapapun dan apapun
Hanya untuk kamu
Mungkin bukan sekarang 
Tetapi pasti untuk kehidupan kita nanti
Entah kapan tapi aku sangat yakin


Jika kamu masih menyimpannya
Itu sudah cukup untukku
Tapi jika kamu tak pernah menganggap semua itu ada
Hanya kamu yang mampu menjawabnya
Karena sebuah cinta itu adalah sebuah kejujuran
Kejujuran akan sebuah perasaan
Bukan sebuah kewajiban yang harus dibalas
Cukup kamu masih percaya
Aku masih memiliki cinta itu
Saat itulah senyumku

Thursday, December 15, 2011

Terima Kasih Tuhan





















Bersama Aviel beberapa hari terakhir seperti bukan sedang berhadapan dengan anak kecil berumur lima tahun. Aku merasa seperti hidup bersama malaikat kecil yang bisa kusentuh dan kupeluk setiap saat.

Semua kata-kata yang tersusun dalam kalimatnya selalu membuatku terpukau dan hanya mampu menanggapi semua dengan senyum.

Saat suhu tubuhnya terasa meninggi dipelukku ketakutanku seketika muncul dan tanpa aku sadari Aviel merasakan kekhawatiranku pada kondisinya.

Sebuah kalimat yang terlontar dari mulutnya; "mami, aku ngga sakit kok, aku ngga pusing, aku cuma ngantuk aja sama kecapekkan main, aku bobok dulu ya..." Dan itu hampir membuatku tertawa kalau aku tidak melihat kondisinya yang terlihat lemah. Aah..., kamu sudah bisa menyembunyikan rasa sakitmu nak.

Karena kamu terlanjur janji sama mami tidak akan sakit saat kamu mau berjauhan dengan Darren saudara kembarmu atau karena kamu tidak ingin mami khawatir tentang kondisimu sayang.

Sekali waktu saat aku terlalu lelah menahan rasa sakit ini sendiri dan terlelap begitu saja di sofa ruang tamu, seperti mimpi kurasakan sepasang tangan mungil membelai perlahan kepalaku dan sesekali terasa pijitan lembut dari tangan itu.

Tersekat tenggorokanku saat aku masih menikmati lembutnya belaian mungil itu dan terdengar suara perlahan ditelingaku; "mami, mulai besok mami jangan kerja-kerja lagi, kalau mami kerja terus kan jadinya mami sakit, terus kepalanya pusing kayak sekarang. Jangan kerja-kerja lagi ya mami, mami dirumah aja sama kakak."

Terima kasih Tuhan, malaikat kecil ini telah Kau kirimkan dalam keluarga kami. Karena mereka kami lebih kuat dalam segalanya. Terima kasih sayang untuk perhatian kalian untuk mami.

Saat aku terpuruk sendiri dalam beban yang teramat berat, hanya dalam hati kumampu menjerit minta tolong. Dan aku yakin Tuhan tidak tuli, Dia pasti dengarkan tangisanku. Pergumulan hidupku hanya mampu kutuangkan dalam sebuah doa, setelah keheningan malam menghampiri, berteman untaian tasbih dan hangatnya air mata yang tak mampu kupertahankan lagi.

Seperti biasa malam itu aku mengadu pada-Nya untuk meringankan Jalan Salib kami saat ini, mohon kemurahan hati-Nya untuk berkenan menyudahi semua proses yang menguras air mata ini. Merasa seorang diri dalam heningnya selimut malam sampai ada genggaman lembut sebuah jemari kecil dan terdengar suara yang begitu lirih; "mami, mami kenapa menangis...??!! Mami sedih ya aku sama bapak jogja sakit, kalo mami sayang aku sama bapak jogja mami jangan nangis, mami berdoain sama Tuhan Yesus biar aku dan bapak jogja sembuh."

Semakin deras air mata ini turun mengalir dipipiku. Sungguh, saat itu rasa syukur yang teramat besar kupersembahkan pada-Nya. Mukjijat-Nya turun atas anak-anakku. Mereka bukan hanya menguatkanku untuk tetap bertahan dalam setiap pencobaan-Nya melainkan juga menjadi cambuk buatku untuk selalu mengingat akan Kuasa-Nya dan selalu mengandalkan Tuhan dalam setiap langkahku.

Thursday, December 1, 2011

Mon Ame (kita dan pantai)


Mencintaimu adalah merdunya bisikan angin
Setiaku untukmu adalah tarian ombak
Kamu adalah pantai dalam lautku

Beberapa waktu berjalan tanpa sapamu
Beberapa saat berlalu tanpa senyummu
Aku merindukan kehangatan rasamu
Merindukan tentang kita
Ketidakpastian dalam penantian
Kebersamaan atas sebuah kesalahan
Cinta yang tak pernah usai sebelum terangkai

Seandainya kamu masih disini
Bersama menanti senja semakin jingga
Menatap jauh hamparan tak bertepi
Terdiam dalam lamunan
Kebersamaan yang tak berujung
Tapi mampu membuat kita selalu tersenyum
Selama jemari tangan ini dalam genggamanmu

Tempat ini terlalu sepi
Untuk sekedar melepas penat
Apalagi membuatku melupakanmu
Karena sesungguhnya itu bukan inginku
Sepi ini membawaku kembali berpetualang
Dalam berjuta angan dan khayalan
Melukiskan kedatanganmu
Dalam setiap deburan ombak yang menepi
Bersenandung dengan alunan nada indahmu
Yang datang bersama indahnya desiran angin

Kebersamaan lembutnya hembusan angin dan birunya air laut
Setia membawa kisah mereka
Berujung bagai lukisan indah diatas pasir
Seperti kebersamaan aku dan kamu
Tidak akan pernah bisa bersatu
Meski cinta tak pernah hanyut dan tenggelam
Namun selalu mampu menghadirkan sebuah senyum
Dalam setiap kebersamaan kita

Shmily... 

Tuesday, November 29, 2011

Si Pak Bro (2)

















Ketemu lagi kita di cerita tentang si pak bro, yang ngakunya dewasa(dewasa apa tua) tapi sebenernya yang dewasa cuma rambutnya aja.

Si pak bro ini kelihatannya saja punya jabatan pendidik (ngga tau siapa yang dididik dan apa materi pendidikan yang diterapkan) tetapi (sorry) perilaku dan cara berpikirnya kalah pintar dan kalah bijak jika dibandingkan dengan anak SMP. Seperti pada saat si pak bro ini tertimpa gosip (artis aja kalah heboh) yang menggemparkan seisi perkantoran. Menurut beberapa rekan sejawatnya, si pak bro sibuk kelimpungan cari tau siapa yang bikin gosip itu, sibuk nyari pembenaran untuk sebuah kesalahan. Ketemulah si pak bro ini sama sebuah account efbe yang ngga jelas punya siapa. Kebetulan didalam efbe tersebut ada ditag foto mr.T tadi (tolong bedakan di "tag" sama di "upload").
Eeee...cuma gara-gara "tag-tag" an foto tadi si pak bro ini langsung ngambek, mutung, mecucu, njedir dan nyari bolo pula dia buat mendukung tuduhannya yang sebenernya itu salah besar.
Beruntung mr.T ngga nanggapi alias ngga peduli alias luweh-luweh sama kelakuan kekanak-kanakannya si pak bro. Jadilah di pak bro ini bibirnya makin maju dan di kucir, ditambah mendadak si pak bro ini menderita penyakit bisu kalo ketemu mr.T.
Sisi ke "cilik" annya si pak bro kelihatan deh disini.

Beberapa waktu lalu ngga sengaja ngintip isi "surat aneh" dari si pak bro buat mr.T. Tepatnya print out, beberapa lembar print out dari account efbe (katanya bukti kuat, hahahahaaaa....iya bukti kuat kalo si pak bro ini ternyata jauh dari kata pinter) yang isinya di pakai sama si pak bro buat senjata menjatuhkan teman satu profesi beda rejeki tersebut xixixixiiii...... Padahal dari kliping sidik kasus yang menimpa si pak bro, ternyata mr.T ini ngga ngerti apa-apa soal perefbean galau yang dimaksud oleh si pak bro tadi. Saya bisa yakin mr.T ini tidak tau apa-apa...?? Karena untuk buka efbe saja mr.T ini ngga ada waktu, selain itu mengenai perefbean mr.T kadang harus konsultasi dulu sama pemiliknya efbe...xixixiii..., hanya kebetulan memang mr.T  ini tidak hobby ngurusin orang lain (apalagi ngurusin yang ngga bisa bikin masuk Surga) karena pekerjaan beliau saja sudah membuatnya langsing, hanya sialnya karena beliau ini seorang karyawan yang bisa diandalkan dalam hal perkomputeran di kantor mereka, jadilah mr.T ini tertuduh oleh si pak bro dalam hal yang ngga mutu tadi.

Si pak bro....., orang udah jenggotan, brewokan tua begitu kok ternyata mau ngomong (bertanya lebih tepatnya) sama mr.T; "benar ngga pak ini anda yang bikin ini, maksudnya apa?" Itu saja ngga punya nyali lho, masa begitu saja minta tolong (ngadu tuuuhh....hahahaaa)  Pak Pimpinan yang bicara ke mr.T dan minta mr.T minta maaf sama si pak bro. Hahahahaaaa.... Ngga malu sama brewoknya pak bro...??!!
Kalau punya punya masalah kok ngga berani ngadepin, ngga bisa menyelesaikan tapi justru menghindar dan cari cara lain buat menarik simpati. Tiba-tiba ngambek, diem aja tanpa minta konfirmasi sama yang bersangkutan yang menurut dia punya masalah.

Akhirnya sampai sekarang si pak bro menderita cacat (kebisuan) total kalo ketemu mr.T. Semoga cepat menemukan "dokter" ya pak bro, biar bibirnya ngga kaku trus bisa buat ceramah lagi. Kalau sudah bisa aiueo, nanti saya privat buat lebih menggauli perefbean deh biar ngga katro dan ngga gampang ditipu seperti sekarang yaaa.... :). Ups....satu lagi, kalo salah diakui saja dan jangan lupa belajar minta maaf. Belajar dari sekarang, jadi "kalau" nanti pak bro punya anak, bisa memberi contoh ke anaknya untuk jadi manusia jujur yang berani mengakui kesalahannya dan tidak gengsi mengucapkan kata maaf jika memang dia bersalah, bukan jadi pecundang/pengecut.

Begitulah, terkadang kita-kita yang sudah semakin tua ini masih saja tidak berani mengakui kesalahan, takut menghadapi sebuah masalah, cenderung mencari kambing hitam dalam sebuah masalah dan menyalahkan orang lain sebagai penyebab dari kesalahan yang kita buat.  Kalau kita saja yang makin berumur tidak bisa melakukan hal yang sebenarnya sangat mudah (hanya memang harus sedikit menurunkan level gengsi), terus gimana kita akan berikan contoh pada anak-anak kita dalam hal yang sama. Apa yang dilakukan anak-anak kita adalah bayangan diri kita sendiri.

Belajar mengakui sebuah kesalahan dan menghadapi sebuah masalah, bukannya menghindari dan lari meninggalkannya memang harus kita biasakan sejak kita mulai mengenal orang lain diluar diri kita sendiri. Karena disaat itulah kita mulai mengerti arti dari makna sebuah kejujuran.

Sunday, November 27, 2011

Telah Datang Waktumu





















In Memoriam 'dhe Maria
RIP Senin,21 November 2011


Seperti mimpi pagi ini
Tanpa banyak kata tapi sangat menyiksa
Malaikat Tuhan menjemputmu
Tanpa sebuah tanda yang kami mengerti
Tertawamu bersama kami beberapa jam yang lalu
Kebersamaan kita dalam perjamuan makan kala itu
Ternyata sebuah peristiwa terindah dalam hidupmu
Jika kami mampu memahami maknanya

Masih teringat kalimat terakhir yang sempat tersampaikan
"Kamu tidak perlu repot memikirkan aku, karena yang seharusnya memikirkan akupun tidak pernah melakukannya."
Ya...
Saya tau, kami semua tau itu....
Tapi kami tidak pernah berfikir tentang hal itu
Kami semua sayang padamu
Tanpa ingin apapun darimu
Apa yang selama ini kami berikan untukmu
Tak sebanding pengorbananmu pada kami
Dirimu sudah seperti orang tua kami
Jika ada diantara kami
Yang selalu membuatku sakit hati
Tak ada protes terlontar dari bibirmu
Hanya dalam doa dan air mata kecewa itu tertuang
Dalam kesendirian malam kau luapkan seluruh sedihmu
Tanpa kami semua tau penat yang kau punya

Sejak dirimu berkarya
Tak pernah sedikitpun dirimu sendiri kau perhatikan
Semua untuk kami
Kau bunuh egomu untuk senyum kami
Kau kubur keinginanmu untuk tawa kami
Kami sadari semua itu
Tapi kami tak mampu memberikan senyum yang sama seperti yang kami dapatkan

Diakhir sisa hidupmu
Selalu tersenyum yang kau coba berikan
Pada setiap siapa yang menyapamu
Dalam segala kekuranganmu
Tak pernah ada keluh kesah terdengar dari bibirmu
Saat kami sedikit berbagi denganmu
Lirih terdengar ucap syukur dari bibirmu bersama dengan mata berkaca-kaca
Kami mengerti
Dirimu tak ingin menjadi beban bagi kami
Tak ingin meminta belas kasih dari kami

Saat pagi ini kutatap lelapmu
Dalam sebuah tempat menuju keabadian
Senyumku tulus melepasmu
Menghantarkan jiwamu ke rumah Tuhan
Dalam kebahagiaan abadi
Kebahagiaan yang tidak pernah kau dapatkan
Dari yang seharusnya memberikannya

Saat tak ada lagi rumah indahmu
Kami tak mampu membangun sebuah gubuk sederhana sebagai gantinya
Tuhan telah sediakan istananya untukmu
Saat tak ada high heels lagi dikakimu
Kami tak mampu memberikan alas kaki yang nyaman buatmu
Tuhan telah siapkan permadani lembut sebagai alas kakimu
Saat tak ada lagi baju mahal melekat ditubuhmu
Kami tak mampu merajut sebuah kain yang pantas untukmu
Malaikat Tuhan telah meriasmu menjadi wanita anggun dan cantik dengan gaun terindah
Saat tak ada lagi kilau emas milikmu
Kami tak mampu memperindahmu dengan perak sekalipun
Tuhan telah menyiapkan mahkota yang tak ternilai harganya untuk menjadikanmu wanita terindah disurga-Nya
Saat tak ada lagi aroma parfum dinadimu
Kami tak mampu memberikan percikan kesegaran untukmu
Tuhan percikkan air suci dengan keharuman abadi
Saat tak ada menu istimewa sebagai hidangan bagimu
Kami hanya mampu berikan apa adanya milik kami
Tuhan telah siapkan santapan kudus bagimu

Saat kau hembuskan nafas terakhirmu
Tanpa ada dari kami yang tau
Tanpa ada dari kami yang menjadi temanmu malam itu
Itulah saatnya kau dapatkan
Segala keindahan yang selama ini kau impikan
Tuhan berikan segala yang kau perlukan
Tuhan telah ambil semua rasa kecewamu, segala rasa sakitmu dan seluruh rasa sedihmu

Tuhan terlalu mencintaimu
Maka Dia tidak akan membuatmu lebih lama bersedih disini
Seumur hidupmu kau persembahkan bagi Tuhan
Setiap karyamu kau lakukan dalam nama Tuhan
Segala hasil jerih payahmu kau ucap syukur pada Tuhan
Sampai saat menutup mata, kau pergi dengan indah bersama Tuhan
Tuhan akan menjadikan segala sesuatunya indah pada waktunya
Dan keindahan itu kini menjadi milikmu selamanya

We Luv U 'Dhe Maria

Friday, November 18, 2011

Keangkuhanmu

Mencoba memahami tatapan matamu
Terlalu dingin untuk sebuah kebersamaan
Mencoba membuat bibirmu tersenyum
Tapi itupun senyum yang terlalu angkuh buat sebuah keindahan

Satu dua kata terucap dari mulutmu
Tanpa ekspresi yang berarti
Semua biasa saja
Hanya membuatku sedikit tertantang

Jangan pernah panggil namaku
Kalau aku tak mampu membuatmu berubah
Tidak hanya tersenyum tapi tertawa
Kalau tak sanggup membuatmu menatapku
Tidak hanya sebuah lirikan tapi tatapan indah

Tak butuh waktu lama buatku
Untuk membuatmu tak bisa melupakanku
Membuatmu selalu ingin bersamaku
Membuatmu selalu berharap padaku

Keangkuhan yang kamu persembahkan buatku
Hanya akan membuatmu terlalu mencintaiku
Kesombonganmu tentang rasamu
Hanya akan menjadi guratan siksa dalam dirimu

#  ditinggalkan oleh cinta itu sakit, ditolak saat kita mencintai itu menyakitkan, tapi rasa disaat kamu tidak mampu mengungkapkan cinta itu yang akan membunuhmu #