Beranjak pagi tapi mata ini masih belum mau bersahabat dengan mimpi.
Bukan karena rasa kantuk yang tidak mendekatiku, tetapi lebih pada
otakku yang tidak mau berhenti berfikir, dan hatiku yang tiba-tiba
menjadi sedikit galau *halaah*.
Rabu, 18 Maret 2012, seorang sahabat mengundangku kembali untuk bersama
bersyukur , memuji, dan memuliakan Tuhan dalam Persekutuan Doa di Kapel
Paroki Santa Klara. Kali ini kami sekeluarga berangkat semua. Bukan
kesengajaan, tetapi lebih pada tidak ada yang bisa nyolek aku berangkat
bareng malam ini, hehheheeeee....
Doa dan pujian seperti biasa mengalir diiringi alunan musik yang lirih.
Indah ketika kami menyebut nama "Yesus" dengan keyakinan. Agung ketika
kami percaya dan sujud hormat bagi Dia.Bait demi bait kalimat kami puji nama-Nya, kata demi kata kami rangkai
untuk bersyukur dan meminta dalam nama-Nya. Sampai saatnya penyembahan
akan mukjijat-Nya, kurang lebih pukul 20.30 WIB, bisikan Aviel
membuatku membuka mata: "mami, kok salib-Nya ilang, ngga ada
disitu...??"
Mencoba tenang dan masuk dalam fikiran anak lelakiku, "Salib yang mana
kak..??" Meski sebenarnya jantung ini rasanya berhenti berdetak. Hilang
semua konsentrasi doaku kali ini.
"Itu lho Mi, yang tadi ada di kotak itu, kok ngga ada..!!",tegas Aviel
sembari menunjukkan jarinya pada tempat Salib di bawah Tabernakel, dan
saat itu juga mata jasmaniku jelas-jelas melihat Salib itu masih tegak
berdiri ditempat semula.
"Kemana Mi salib-Nya..??", masih dengan pertanyaan yang sama karena
Aviel memang belum mendapatkan sebuah jawaban dariku. Tanpa berfikir
lagi kalimat "ngawur" pun keluar dari mulutku, "Salibnya sudah ada
dihati kakak, karena Tuhan Yesus sayang sama kakak". *gleg*...benarkah
itu...??!! (Adakah yang bisa membantu aku mendapatkan jawaban dari semua peristiwa ini)
Tanpa terasa, aliran hangat itu mulai tercipta, penuh tanda tanya,
antara khawatir dan berserah, mencari arti dari kejadian itu, baik atau
buruk bagi anakku.
"Apa yang ingin Tuhan sampaikan pada kami orang tuanya, apa yang sudah
Tuhan rencanakan bagi Aviel?" Entahlah. Karena disini sekali lagi
kepasrahanku, dan keyakinanku dipertaruhkan kembali dihadapan-Nya.
Sampai acara Doa malam itu selesai aku masih tak mampu mengerti. Bahkan
ketika hal itu aku coba ceritakan pada pimpinan Doa dan anggota
Persekutuanpun aku masih tak bisa mengerti. Aku hanya ingat bahwa aku
pernah menyerahkan kedua "matahariku" ke tangan Tuhan. Untuk Tuhan jadikan
perpanjangan tangan, biji mata dan penyambung lidah Tuhan di dalam
hidup menggereja (baca: Pastur).
Membuatku teringat kembali ketika mereka berdua lahir, kami memberi nama mereka berdua
dengan harapan yang sangat indah (yang udah tau ngga usah baca lagi,
capek :D)
VERCELLIO AVIEL ELEANOR yang memiliki arti "Anak Allah yang terang benderang,bercahaya dan penuh belas kasih" dan VERCELLIO ELLYSON DARREN yang memiliki arti "Anak Allah yang kuat dan hebat".
Aku hanya berharap semoga peristiwa yang Aviel alami adalah peristiwa
baik. Tetapi apapun artinya, yang pasti itu adalah tanda dari Tuhan
bahwa hanya Tuhan yang punya kuasa atas apa yang sudah kami miliki
bahkan anak-anak yang sudah Tuhan titipkan dan percayakan pada kami.
Tuhan mengingatkan kami bahwa kehendak Tuhan atas kami pasti terjadi,
mengingatkan pada kami akan tanggung jawab terhadap anak-anak kami.
"Tuhan Yesus, kuserahkan jalan hidup kedua anak kami kedalam tangan-Mu,
jika Engkau berkehendak mereka menjadi perpanjangan tangan-Mu untuk
mengajarkan belas kasih, menjadi biji mata-Mu untuk melihat semua
kebenaran, menjadi penyambung lidah-Mu untuk mewartakan Firman-Mu, kami
akan mempersembahkan mereka kepada-Mu dengan suka cita. Biarlah mereka
boleh menjadi terang dunia terutama bagi Gereja-Mu, seperti arti dari
nama yang kami berikan untuk mereka. Amin."