Friday, August 3, 2012

Diamku





















Aku terdiam ketika aku merindukan hadirmu
Aku terdiam ketika aku haus tatapanmu
Aku terdiam ketika aku hampa tanpa belaimu
Aku terdiam ketika aku tak mampu menyentuhmu 
   dan katakan aku mencintaimu
Aku terdiam ketika aku memikirkan 
   apa yang terjadi padamu diujung sana
Aku terdiam ketika alam tak akan 
   ijinkan kita bersama
Aku terdiam ketika waktu tak mungkin 
   menerima kita bersatu
Aku terdiam ketika semua rasa yang kupunya untukmu 
   tak pernah menjadi milikmu
Cinta yang kumiliki hanya mampu tumbuh dalam diamku
Tetapi semua tak akan hilang meski aliran kesedihan   
   beranjak pergi dari mataku.

Tak Tersampaikan
















Kita masing-masing tau
Sketsa yang terlukis dalam hati kita
Hanya butuh satu kata "keberanian"
Untuk menjadikan lukisan ini sempurna


Andai aku mampu menghapus
Hitamnya cerita cintaku
Pekatnya warna pedih yang kupunya
Membuatku tak ingin mengubah kelamnya
Andai aku berani membuka mata
Menatap indahnya hari baru
Tapi mata ini masih tertutup rapat
Sejak rasa sakit tertanam dihatiku
Membenamkan seluruh benih cinta
Andai aku berani membuka sayap
Yang pernah terluka tajamnya cinta
Mencoba untuk kembali terbang
Menikmati keindahan cinta yang sesungguhnya


Bantu aku menghapus hitam ini menjadi abu-abu
Dan aku akan menjadikannya kembali putih
Bantu aku membuka lelap mataku
Dan aku akan mempersembahkan tatapan terindah untukmu
Bantu aku merentangkan sayap patahku
Dan aku akan selalu menemanimu
Terbang dengan tarian tercantikku

Wednesday, June 27, 2012

Sesal









Bercengkerama dengan hitam
Mencari titik sinar kehidupan
Berselimut kabut kehancuran
Beralas tebalnya kekecewaan

Ranting cinta perlahan mengering
Terkadang patah yang tertinggal
Berhias embun keakuan
Dengan mahkota kesombongan

Ketika darah perlahan mengalir
Saat nafas tak mampu diraih
Lenyap segala kemegahan diri
Menciptakan sesal dan duka

Berdamai dengan bingkai pengertian
Berjalan dalam nafas keagungan
Tersenyum untuk indahnya kedamaian
Perihnya batin bukan sebuah karma

Tuesday, June 26, 2012

Rasa Yang Lama












Kembali menyapamu
Sederhana namun teramat indah
Tak pernah lekang oleh waktu
Semua yang kupunya tentangmu

Cerita itu kembali mengalir
Indah memenuhi ruang batin
Lenyapkan semua penatnya otak
Membasuh hitamnya jiwa

Terlintas untuk kembali bersama
Meski tak akan pernah bersatu
Patahkan semua asa cinta
Untuk sebuah kata komitmen

Rasa yang tak pernah lelah
Diantara letihnya masa
Cinta ini terlalu kuat
Meski tak pernah dapatkan raga

Akhirnya....












Ketika semua hampir selesai
Hati ini mulai merasa berat
Saat kata itu terucap
Tatapan mulai basah

Ketika semua telah berakhir
Hanya mampu telintas dalam pikir
Andai aku bisa bahagiakanmu
Tanpa kamu meninggalkan aku

Tak sanggup menatap gelisah mata
Tak mampu mendengar getar bibir
Semua hanya ingin terdiam
Dalam sebuah sedih tersimpan

Seperti berdiri dalam persimpangan
Meski semua untuk bahagia
Namun aku  masih tak mampu
Membunuh pedih rasa berpisah

Monday, May 7, 2012

Tidak Pernah Meninggalkanmu


Aku selalu menatapmu
Pada setiap arah langkahmu
Meski kamu hanya sekedar melirikku
Bahkan ketika kamu tak pernah sempat melihatku

Aku selalu disampingmu
Ketika kamu kesepian seorang diri
Ataupun ketika kamu sedang tertawa 
  bersama sahabatmu
Dan melupakan kehadiranku

Aku selalu membasuh sakitmu
Ketika kamu terjatuh dan terluka
Meski kecewa yang selalu kudapatkan
Tak jarang amarah terucap darimu

Aku selalu menjagamu
Ketika mata lelahmu terpejam menutup senja
Merajut cerita indah sebagai teman tidurmu
Membuat malammu berwarna tak lagi gelap.

Aku selalu ada
Dalam senyum dan tangismu
Aku mencintaimu
Dengan kelebihan dan kekuranganmu
Aku tak akan pernah meninggalkanmu
Sampai keindahan surga memelukmu

Thursday, April 19, 2012

Meraba Rencana Tuhan


Beranjak pagi tapi mata ini masih belum mau bersahabat dengan mimpi.
Bukan karena rasa kantuk yang tidak mendekatiku, tetapi lebih pada otakku yang tidak mau berhenti berfikir, dan hatiku yang tiba-tiba menjadi sedikit galau *halaah*.

Rabu, 18 Maret 2012, seorang sahabat mengundangku kembali untuk bersama bersyukur , memuji, dan memuliakan Tuhan dalam Persekutuan Doa di Kapel Paroki Santa Klara. Kali ini kami sekeluarga berangkat semua. Bukan kesengajaan, tetapi lebih pada tidak ada yang bisa nyolek aku berangkat bareng malam ini, hehheheeeee....

Doa dan pujian seperti biasa mengalir diiringi alunan musik yang lirih. Indah ketika kami menyebut nama "Yesus" dengan keyakinan. Agung ketika kami percaya dan sujud hormat bagi Dia.Bait demi bait kalimat kami puji nama-Nya, kata demi kata kami rangkai untuk bersyukur dan meminta dalam nama-Nya. Sampai saatnya penyembahan akan mukjijat-Nya, kurang lebih pukul 20.30 WIB,  bisikan Aviel membuatku membuka mata: "mami, kok salib-Nya ilang, ngga ada disitu...??"

Mencoba tenang dan masuk dalam fikiran anak lelakiku, "Salib yang mana kak..??" Meski sebenarnya jantung ini rasanya berhenti berdetak. Hilang semua konsentrasi doaku kali ini.
"Itu lho Mi, yang tadi ada di kotak itu, kok ngga ada..!!",tegas Aviel sembari menunjukkan jarinya pada tempat Salib di bawah Tabernakel, dan saat itu juga mata jasmaniku jelas-jelas melihat Salib itu masih tegak berdiri ditempat semula.

"Kemana Mi salib-Nya..??", masih dengan pertanyaan yang sama karena Aviel memang belum mendapatkan sebuah jawaban dariku. Tanpa berfikir lagi kalimat "ngawur" pun keluar dari mulutku, "Salibnya sudah ada dihati kakak, karena Tuhan Yesus sayang sama kakak". *gleg*...benarkah itu...??!! (Adakah yang bisa membantu aku mendapatkan jawaban dari semua peristiwa ini)

Tanpa terasa, aliran hangat itu mulai tercipta, penuh tanda tanya, antara khawatir dan berserah, mencari arti dari kejadian itu, baik atau buruk bagi anakku. "Apa yang ingin Tuhan sampaikan pada kami orang tuanya, apa yang sudah Tuhan rencanakan bagi Aviel?" Entahlah. Karena disini sekali lagi kepasrahanku, dan keyakinanku dipertaruhkan kembali dihadapan-Nya.

Sampai acara Doa malam itu selesai aku masih tak mampu mengerti. Bahkan ketika hal itu aku coba ceritakan pada pimpinan Doa dan anggota Persekutuanpun aku masih tak bisa mengerti. Aku hanya ingat bahwa aku pernah menyerahkan kedua "matahariku" ke tangan Tuhan. Untuk Tuhan jadikan perpanjangan tangan, biji mata dan penyambung lidah Tuhan di dalam hidup menggereja (baca: Pastur).

Membuatku teringat kembali ketika mereka berdua lahir, kami memberi nama mereka berdua dengan harapan yang sangat indah (yang udah tau ngga usah baca lagi, capek :D)
VERCELLIO AVIEL ELEANOR yang memiliki arti "Anak Allah yang terang benderang,bercahaya dan penuh belas kasih" dan VERCELLIO ELLYSON DARREN yang memiliki arti "Anak Allah yang kuat dan hebat".

Aku hanya berharap semoga peristiwa yang Aviel alami adalah peristiwa baik. Tetapi apapun artinya, yang pasti itu adalah tanda dari Tuhan bahwa hanya Tuhan yang punya kuasa atas apa yang sudah kami miliki bahkan anak-anak yang sudah Tuhan titipkan dan percayakan pada kami. Tuhan mengingatkan kami bahwa kehendak Tuhan atas kami pasti terjadi, mengingatkan pada kami akan tanggung jawab terhadap anak-anak kami.

"Tuhan Yesus,  kuserahkan jalan hidup kedua anak kami kedalam tangan-Mu, jika Engkau berkehendak mereka menjadi perpanjangan  tangan-Mu untuk mengajarkan belas kasih, menjadi biji mata-Mu untuk melihat semua kebenaran, menjadi penyambung lidah-Mu untuk mewartakan Firman-Mu, kami akan mempersembahkan mereka kepada-Mu dengan suka cita. Biarlah mereka boleh menjadi terang dunia terutama bagi Gereja-Mu, seperti arti dari nama yang kami berikan untuk mereka. Amin."