Friday, November 6, 2026

Rest In Peace


photo : koleksi pribadi

"Mencoba menerima dan melepaskan dengan sukacita ketika siapapun yang dekat denganmu akhirnya dijemput saudara maut setelah sekian lama bersahabat dengan rasa sakit."

Pemikiran ini pasti akan banyak memunculkan komentar negatif dan sikap kontra dari kalian yang membaca. Karena ketika saya pernah sampaikan secara lisan sudah ada banyak komentar seperti:
* cuma orang gila yang bisa begitu...!!
* kamu belum ngerasain ditinggal selamanya sama orang terdekatmu,
  makanya bisa bilang begitu...!!
* sakit jiwa...!!
* kepercayaan apa yg dianut bisa punya pikiran seperti itu...?!
* bukan manusia...!!
* tidak punya hati nurani...!!
* dan masih banyak lagi komentar yang memang "wajar" bagi sebagian umum orang.

Dear semua... Kalimat itu bisa aku ucapkan bukan karena aku membaca sebuah teori dalam buku atau apapun itu, melainkan karena aku pernah mengalami sendiri hal-hal yang paling menyakitkan dan melelahkan sampai akhirnya menemukan akhir dari semua pemikiran, mengapa, kenapa,bagaimana bisa...??

Aku mengalami rasanya bersahabat dan bersaudara sengan segala macam rasa sakit sejak kelas 3 SD sampai detik ini disaat usiaku hampir 50 tahun. Tiga belas (13) macam penyakit pernah dan masih menjadi sahabatku sehari-hari sampai saat tulisan ini dibuat.

Ratusan macam dan jenis racun dengan lebel  "obat untuk kesembuhan" berdansa disetiap aliran darahku.
Berbagai alat pemeriksaan dan eksekusi kesehatan sering memeluk tubuhku dalam setiap prosesnya. Bahkan jarum infus dan tabung oksigin masih setia menempati jajaran harta yang kumiliki saat ini.
Seluruh type ruangan di berbagai rumah sakit sering menjadi "rumah keduaku", mulai dari ruang IGD, ODC, ruang radiologi, ruang isolasi, ruang perawatan, ruang kemoterapi, radiasi, HCU bahkan ICU_pun akrab menyambut kedatangan badan lemahku.

Taukah kalian apa yang kurindukan setiap aku kembali "singgah" diruang-ruang tersebut...?

Adalah salah satu ruang yang 99% orang sebisa mungkin hindari, tapi bagi kami yang 1% selalu menjadi donatur tetap "rumah sakit" akan selalu merindukannya, semua rindu itu hadir karena kami telah lelah dengan semua rasa sakit ini. Disanalah kami ingin "pulang", istirahat melepaskan semua rasa sakit ini. YES...? Tempat itu bernama Kolumbarium.

Dalam benakku disanalah ketenangan itu ada, jalan menuju sebuah kedamaian hidup kekal, dimana semua rasa sakit akan lenyap tak berbekas. Tidak seperti ruang-ruang lain yang masih memberikan harapan indah sejenak bagi penghuninya, sebelum akhirnya akan kembali datang kesana lagi, entah dengan sahabat yang sama atau bahkan bisa jadi dengan sahabat baru yang diberikan oleh_Nya.


Akupun mengalami kehilangan yang sangat dalam. Lenyapnya sebuah kehangatan yang lama menemani langkahku. Mematahkan ego dan rasa memiliki yang abadi, keyakinan bahwa kami bisa bersama selamanya.

Dia, satu-satunya lelaki yang menerima nafas dan detak jantungku sejak aku dibentuk_Nya, lelaki yang tidak pernah menolakku dan semua keinginanku, lelaki yang tidak pernah memiliki kata "nanti atau tidak bisa" untuk semua yang kumau, kapanpun, dimanapun dan apapun itu. Lelaki yang tau setiap kebutuhanku sebelum aku memintanya. Lelaki yang mengajarkan aku untuk menjadi wanita dengan mental lelaki sejati dengan memiliki hati wanita sejati.

Sedih....?
Banget...., sangat menyakitkan untuk bisa menerima situasi saat itu.
Tetapi tidak boleh menghancurkan keberadaan lain yang tidak kalah ada dalam duniaku.

Wajah terahkirnya membuatku sadar, bahwa aku tidak boleh hancur karena kepergiannya. Kehilangan itu egoku, tapi berpulangnya itu adalah jalan hidup kekal dengan damai tanpa rasa sakit yang telah menemaninya bertahun-tahun. 

Seketika ingat beliau pernah berkata pada 2 tahun pertamanya bersahabat dengan rasa sakit. "Nduk, iki nek neng kene suntik mati halal koyo neng luar negri kae, bapak tak nyuwun kui wae. Bapak kesel, kesel ngrasakke loro'ne, kesel le ngrepoti mama'mu, kesel ora iso nyenenge anak-anak wedok'e bapak". Hatiku perih mendengar kalimat itu sesungguhnya, tetapi tidak ada sepatah kata yang mampu keluar dari mulutku ketika itu, hanya memeluknya yang bisa kulakukan saat air matanya mengalir menutup kalimat itu. Namun otak dalam kepalaku berusaha menolak untuk merasakan luka itu, kenapa aaku harus ikut tersakiti, seharusnya aku tidak perlu merasa sedih mendengar kalimat itu, karena sesungguhnya hal yang sama saat itu terjadi dalam diriku. Aku lelah hidupku tidak pernah berhenti menjadi media belajar mereka yang berjuang menyelamatkan nyawa banyak manusia, lelah mulutku dijejali berbagai macam racun atas nama proses penyembuhan, lelah bercengkerama dengan jarum dan selang yang menghambat semua aktivitasku, lelah menahan rasa bersalah karena selalu merasa menjadi beban hidup keluarga, yang menghabiskan harta dan mental keluarga karena harus berfokus pada duniaku.

Kembali kutatap wajah tenang dalam tempat istirahat terahkir sambil berbisik "Happy ya Be, sudah ilang sakitmu, udah damai hidup kekalmu, titip pesen buat Tuhan, sakitku boleh ya dicukupkan, aku juga capek Be.... Babe damai di Surga, jadi pendoa buat kami yang masih berziarah disini ya Be". Masih ada tangisku tapi bukan lagi air mata kehancuran karena kepergiannya karena aku tau perginya untuk kedamaian hidup kekal yang dijanjikan_Nya.

Itulah kenapa aku tidak pernah lagi berlarut-larut dengan kedukaan yang terjadi. Bukan karena tidak punya hati, melainkan yakin Tuhan mencintai mereka, mencukupkan rasa sakitnya dengan cara memanggil kembali pulang. Bukan juga karena tidak pernah merasa kehilangan, melainkan sangat mengerti setiap proses yang sudah dilalui untuk menikmati semua rasa sakit yang dialami itu sangatlah melelahkan bagi yang menjalani. Akan lebih menyakitkan melihat mereka bergelut menahan semua perih yang menggerogoti tubuhnya, menghancurkan fisik dan mentalnya, dari pada rasa sakit melepaskan ego dari sebuah rasa memiliki. Belajar untuk tidak egois dan hanya berpikir "aku nanti bagaimana, kami harus bagaimana", cobalah melihat dari dunia mereka yang mengalami sakit, bersyukur karena yang berpulang sudah tidak menderita pedih lebih lama lagi.


01 November 2026
Damai di Surga bagi jiwa-jiwa yang telah berpulang ke rumah keabdian.