Wednesday, February 8, 2017

BERKACA SEBELUM BICARA















Situasi yang memanas dalam sebuah kasus, terkadang membuat kita "gatel" untuk berkomemtar, meskipun kita tidak tau apa yang sesungguhnya terjadi dan seperti apa kebenarannya. Tetapi hanya dengan modal baca judul headline di media masa atau media sosial ada beberapa dari kita yang berani mengatakan sebuah kasus adalah rekayasa atau setingan, hanya karena kita berada pada salah satu pihak yang sedang bermasalah tetapi tidak mengerti kebenaran dan duduk permasalahan yang sesungguhnya.

Hellooo.....
Berkaca lagi yuk sahabat....gimana hidup kita....sudah pantas belum kita berkomentar seperti itu terhadap kehidupan orang lain...
Bolehlah sekarang diam sejenak, coba membayangkan posisi kita ada pada mereka yang sedang tertimpa kasus (apapun kasusnya) Gimana perasaan kita yaaa.....? Lha..... kita dikasih tanggung jawab menjaga, menghidupi, mensejahterakan dan bertanggung jawab sama keluarga kita aja terkadang kita belum mampu. Kenyataannya....berat sedikit ngeluh di medsos, susah sedikit ngeluh di medsos, berantem sedikit dikeluarga ngeluh di medsos, seakan-akan kita sudah menerima cobaan yang paling berat dan butuh dikasihani.

Coba sekarang dibalik kondisinya, seandainya kita yang seneng berkomentar rekayasa atau setingan ini berada di posisi mereka yang sedang tertimpa kasus..... mampu ndak ya kita melewatinya....??!!!
Maka dari itu...sudahlah sahabat.....berhenti menebar kebencian dengan menambahkan kata "rekayasa dan setingan" dalam sebuah kasus, jika kita tidak mengerti bagaimana sebuah kebenaran itu ada.....itu hanya akan memperbanyak koleksi dosa kita aja....

Soal rekayasa atau setingan sebuah kasus yang tidak melibatka kita, apa hubungannya dengan kehidupan dan surga kita nanti sahabat....??? Jika itu benar rekayasa atau setingan, itu urusan mereka, si pembuat cerita itu sama Tuhan.Tetapi jika itu bukan sebuah rekayasa dan setingan kita ikut berperan membunuh masa depan seseorang.

Dan jangan salah.....
Waktu itu berputar. Terkadang Tuhan harus memberikan kita hal yang sama pahitnya yang sekarang dialami orang lain dan kita katakan setingan atau rekayasa supaya kita tau bagaimana rasanya di posisi itu, dan kita belajar menghargai kehidupan orang lain.

Kebenaran tidak terletak dari berapa banyak orang yang berada di pihak kita, tetapi ada pada kebenaran itu sendiri. Maka tidak perlu kita mengingkari sebuah kebenaran dengan sebuah hasutan yang justru menutup kebenaran itu sendiri.

Jika kita terbiasa menuduhkan hal negative terhadap orang lain, sesungguhnya kita sendirilah yang melakukan hal itu, hanya kita terlalu sombong untuk menyadari kelemahan kita.
Jika kita tidak bisa membantu orang lain setidaknya kita jangan ambil bagian untuk menghancurkannya.....

Tuesday, February 7, 2017

Apa itu TOLOL....???




















Paijo bertanya pada simboknya “apa arti kata tolol....?” 
lucu memang buat kita yang sudah biasa denger kata itu tapi yang menggelitik hati simbok adalah # kenapa sampe paijo ini di katain bego dan tolol sama anak seusianya dia yang ndak pernah dia temui dan baru ketemu sekali tadi#

Usut punya usut karena si paijo menyampaikan sebuah pertanyaan pada si anak itu. Saat si anak bercanda dengan temannya dengan bahasa “gaul” versi anak-anak itu tetapi “kasar” menurut paijo dan ada satu kata yang sudah pasti baru didengar paijo saat anak-anak itu bermain gadget dan tiba-tiba mengucapkan kata NG****T. paijo yang tidak ikut melihat gadget dan mendengar kata itu spontan nanya sama anak-anak yang sedang asik sama gadgetnya apa arti dari kata tersebut, dan alhasil paijo dikatain “Loe bego apa tolol sih” dan sekali lagi paijo pulang membawa oleh-oleh pertanyaan kata-kata baru yang sama sekali ndak pantas keluar dari mulut anak-anak apalagi usia mereka masih PIYIK....

Entah siapa yang salah, simbok karena terlalu KUPER mendidik anak atau anak-anak itu yang pendidikan pergaulannya terlalu GAUL menurut versi orang tua mereka.... :D Simbok hanya prihatin aja kok...orang tua anak-anak itu pada bangga memberi gadget ke anak-anak mereka, ndak mau tau apa yang anak mereka liat, ndak memperhatikan pergaulan anak mereka tapi kok ya merasa sukses dalam mendidik anak.

Pendidikan ahlak dasar seorang anak ada didalam keluarga, pergaulan hanya sepersekian persen mempengaruhi perilaku seorang anak. Pondasi dan dasar dari sikap, perilaku dan tutur kata seorang anak semua berasal dari dalam keluarga. Tidak bisa dibayangkan seperti apa orang tua mereka berkomunikasi sehari-hari dengan anak-anak mereka sampai anak-anak tersebut berperilaku dan bertutur kata se”gaul” itu.

Masa depan anak itu pilihan orang tua,orang tua menerima anaknya dibilang KUPER tapi berahlak atau lebih bangga anaknya dibilang GAUL tapi rusak....


#belajarhidupdarimelihat

Wednesday, June 8, 2016

Andai Kamu Menjadi Aku




















Jika kamu bosan katakan
Andai kamu muak tinggalkan
Atau mungkin kamu ada pilihan

Untuk sekali saja dalam sejenak bertukar tempat
Aku menjadi kamu...... 
Dengan segala kesibukanmu, kelelahanmu, 

      dan kepusinganmu menjalani seluruh rutinitasmu
Dan kamu menjadi aku.....
Dengan segala kesantaianku, menikmati setiap hari-hariku, 

     dan dengan segala kesakitan yang kumiliki

Agar kamu bisa merasakan
Bagaimana nikmatnya setiap sakit ini datang, 

bukan hanya setiap jamnya tetapi setiap detik yang kupunya
Agar kamu merasakan 

tersiksanya ketika obat yang tak bisa kamu dapatkan 
hingga rasa sakit itu berlipat-lipat
Agar kamu bisa merasakan 

bagaimana tidak bergunanya kamu 
sampai-sampai diajak bicarapun tidak
Agar kamu mengerti

bagaimana kolaborasi rasa sakit, tak berguna, dan tak dianggap 
Agar kamu memahami
setiap rasa yang kupunya

Dan yang pasti...
Agar kamu bisa menjaga sikapmu
pada setiap manusia yang mempunyai hidup berbeda
dengan hidup yang kamu punya...
Agar kamu lebih bisa menata ucapanmu
kepada setiap insan yang sesungguhnya tidak kamu "kenal".

#besmart
#introspeksidirimusebelummenilaioranglain


Ketika Iman Kami Terusik (2)




















Ah saudaraku.....
Sesungguhnya aku tidak mau menyalahkanmu
Tentang pola pikir yang saat ini
masih kamu simpan dalam otakmu
Aku hanya kasihan sama kamu
Saat perutmu lapar
Rasa laparmu dimanfaatkan mereka yang berotak picik
Saat dompetmu tak ada lembaran rupiah
Kamu dimanfaatkan oleh mereka yang buta hati dan pikir

Jika kamu pikir ikut Yesusku itu gampang
Jika kamu pikir membuat seseorang mau memanggul salib itu enteng
Dan jika kamu pikir....
Hanya dengan satu kalimat
Dalam Nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus
Kamu, temanmu, saudaramu ataupun keluargamu
Sudah bisa mengikuti Yesusku

Maafkan aku saudaraku....
Jika aku harus bilang bahwa kamu salah besar
Tapi mau sekuat apapun aku berdebat denganmu
Menjelaskan dengan detil ke kamu
Kamu tidak akan pernah bisa mengerti
Karena kamu tak pernah mau mendengarkan
Sesungguhnya jika kamu sedikit membuka mata hatimu
Melihat apa yang aku sudah lakukan
Apakah pernah aku mengusikmu
Sekali saja.....
Pernahkan aku melukai imanmu saudaraku....

Ah....sudahlah...
Rasanya memang percuma bicara
Saat ini....cukup melihat semua polahmu
Mungkin mereka yang berambisi lelah sendirian
Dan mungkin saat ini kamu sedang lapar....

#peace&love

Wednesday, January 20, 2016

Kebiasaan















Membiasakan yang benar bukan membenarkan sebuah kebiasaan....

Topik bincang pagi disalah satu stasiun tv swasta hari ini mengingatkanku pada sebuah kejadian yang bisa membuat mulutku bisu mendadak. Ketika ada seorang bapak minta tolong pasa si anak untuk mengambil sebuah pen/pensil.

Awalnya sih biasa aja...tapi ketika si anak mengulurkan tangan kanannya kepada sang bapak dan sang bapak mencoba menerimanya dengan posisi yang ndak bergeser dari tempat duduk semula, ada sedikit tanya aja dalam hatiku "kenapa si anak juga ndak mau maju juga".
Saat sang bapak mulai bicara dengan nada agak tinggi tapi si anak tetap ndak mau ngasih pen/pensil ditangannya, aku mulai berfikir bahwa "ada yang salah". 

Dan ternyata benar. Ketika sang bapak tau bahwa si anak ingin sang bapak MENERIMA DENGAN TANGAN KANAN BUKAN TANGAN KIRI seperti yang beliau lakukan saat itu, sang bapak bukannya merubah sikapnya dengan menarik tangan kiri dan mengulurkan tangan kanan tetapi justru marah dan tidak jadi menerima pen/pensil yang sudah dicarikan dan diberikan si anak.

Hanya prihatin atas "GENGSI" yang dimiliki oleh sang Bapak, yang sebenarnya tau bahwa dia salah tapi tidak mau mengakui kesalahannya.
Jempol buat si anak yang tetap memegang prinsip melakukan dan membiasakan yang benar meskipun konsekwensinya tugasnya tidak mendapat tanda tangan sang bapak.
Moms & Dads....orang tua TIDAK SELALU BENAR, tapi orang tua SWLALU BERANGGAPAN LEBIH BENAR dari pada anaknya.

Hidup Baik

















Ada minimal 5 hal yang wajib kita lakukan 
jika kita ingin hidup dengan baik ;

1. Jangan menolak siapapun 
yang meminta pertolonganmu.

2. Jangan memikirkan untung dan rugi sebuah pertolongan 
   yang kamu berikan.

3. Jangan berharap orang lain mengakui keberadaanmu.


4. Jangan berharap orang lain akan memuji keberhasilanmu.


5. Jangan pernah "kapok" berbuat baik 

   meskipun kebaikanmu terkadang dibalas kejahatan.

Kedamaian Abadi






















Semua akan tiba pada waktu Nya....
Menyakitkan ketika kita "dipaksa" 
menyadari bahwa apa yang kita sayang dan (rasanya) miliki selama ini, 
diambil kembali oleh Pemilik yang sesungguhnya. 
Tetapi akan lebih menyakitkan 
ketika kita melihat orang yang kita sayangi 
kesakitan menahan rasa sakit yang tidak mampu terkatakan.

Semua sudah selesai dan tepat pada waktu Nya. 
Yang berpulang telah memiliki 
kedamaian dan kebahagiaan abadi. 
Kami yang ditinggal harus bisa bangkit 
untuk kembali melanjutkan perjalanan 
peziarahan dalam dunia ini. 
Dengan terus mendoakan 
yang telah berpulang dengan cinta yang tidak berubah.
Kembali tersenyum dan berjalan maju.

Bersyukur ketika kami mampu mengimani 
bahwa "kematian bukanlah sebuah kesedihan abadi 
melainkan awal dari sebuah kebahagiaan kekal 
bersama Pemilik yang sesungguhnya",
ada kesedihan dalam kematian, 
itu manusiawi, 
tetapi (bisa) bersyukur 
atas kebahagiaan kekal bagi yang berpulang 
adalah kewajiban umat beriman.


#29.11.2015
#peringatan3harimeninggalbabe
#damai_di_Surga_ya_Be…