Wednesday, June 8, 2011

Musibah Itu Sebuah Pelajaran Berharga


(dedicated to Ingelia)

Terdiam aku melihatmu terbaring lemah, dengan mata tertutup rapat dan sedikit luka memar ditubuhmu. Diatas tempat tidur yang putih bersih dan masih dengan selang infus melekat ditubuhmu. Tetapi semua sudah lebih baik dari hari kemarin. Mereka bilang kamu sudah mampu tersenyum, bahkan kamu telah mau untuk sedikit berbicara. 

Anganku dipaksa untuk kembali pada suasana malam itu, malam dimana semuanya begitu kacau, suara teriak minta tolong dan suara tangis terdengar bergantian  ditelingaku, mataku dipaksa menatap kejadian tragis itu. Saat sebuah kereta dalam kota melintas didepanku. Terlihat seperti tidak terjadi  apa-apa karena tidak ada sisa sedikitpun ditempat itu.

Beberapa detik setelah kereta itu berlalu terdengar derit suara besi beradu dan dalam hitungan detik terdengar sesuatu yang berat jatuh dari kereta yang baru saja  melintas. Dalam hitungan detik tempat itu berubah menjadi sebuah  kerumunan manusia. Tatapan kesedihan terpancar dari wajah-wajah mereka, meskipun mereka bukan siapa-siapa. Mencoba menyibak kerumunan dan mencari tau apa yang sebenarnya terjadi.

Sebuah mobil keluarga yang mencoba melintas dijalan sepi itu, tanpa peringatan  dan tanda sedikitpun, berpapasan dengan sebuah kereta dalam kota yang melintas dengan  kecepatan tinggi dan menyambarnya, mobil yang tadi sempat terlihat melintas dijalan sepi itu bukan tak terlihat karena telah berhasil melewati jalanan itu, melainkan tak terlihat lagi karena terbawa dan terseret ratusan meter disamping kereta itu. Miris melihat kondisi mobil yang hancur disatu sisinya karena beradu dengan badan kereta. 

Tangan tangan cekatan dan berjiwa mulia berusaha membuka sisi pintu mobil yang masih bisa dibuka, mencoba menyelamatkan beberapa korban yang ada didalamnya. Dengan transportasi dan peralatan seadanya mereka mencoba membawa keempat korban (yang keempatnya tidak lain merupakan satu keluarga) ke sebuah rumah sakit terdekat yang ada disekitar dilokasi kejadian. Terbentang pemandangan mengenaskan di dalam ruang emergency rumah sakit dalam kota itu, yang terdengar hanyalah suara rintihan menahan lara, seorang wanita setengah baya (terakhir diketahui sebagai istri dan ibu dari korban yang lain) terbaring diam, tanpa suara, seluruh tubuhnya tertutup kain seadanya, hanya sebagai tanda bahwa beliau telah berpulang ke rumah Bapanya.

Seorang anak laki-laki remaja terlihat bertarung melawan maut, berkawan belasan selang yang melilit tubuhnya dan beberapa peralatan medis yang menopang seluruh tubuhnya. Tetapi itupun tak bertahan lama. Persis satu jam dia berada di ruang ICU, yang pada akhirnya dia menyerahkan seluruh hidupnya pada Bapanya di surga. Bersama sang Bunda pergi untuk selama-lamanya, meninggalkan Ayah dan Kakak perempuannya yang masih terbaring lemas, yang berjuang untuk mengalahkan rasa sakit yang tengah menghimpitnya.

Sesaat sang Ayah mulai tersadar dan kembali mencoba mengingat apa yang telah terjadi dengan dia dan keluarganya, mencoba mencari keberadaan istri tercintanya dan kedua buah hati mereka. Pandangannya terhenti pada salah satu tempat tidur dengan seseorang terbaring dengan tertutup kain, entah kenapa perasaannya sangat kuat saat melihat sosok yang terbujur diatas tempat tidur itu, dia seperti ingin membuka kain penutupnya tapi dia tak mampu menggerakkan tubuhnya.

Tidak tau lagi apa yang kala itu dia rasakan didalam hatinya, saat sebuah kalimat tersusun rapi mengalir dari salah satu Dokter di Rumah sakit itu menjawab Tanya darinya…..
“Putri Bapak ada dalam ruang perawatan intensif dan belum sadarkan diri, dia hanya menderita memar dibeberapa tempat, tetapi kami pihak Dokter dan paramedis mohon maaf karena dengan sangat menyesal kami harus menyampaikan bahwa istri dan putra bapak tidak bisa bertahan, kami telah berusaha semampunya tetapi Tuhan berkehendak lain atas mereka, mereka berdua telah meninggal.”
Tidak akan pernah ada kata bahkan kalimat sekalipun yang sanggup mengungkapkan apa yang dirasakan sang Ayah kala itu. Hanya tampak duka dan penyesalan yang sangat dalam pada gurat wajah pria yang sudah mulai menapak usia 40 tahun itu.

Seorang perawat membantu mengantarnya untuk melihat kondisi istri dan putranya. Tanpa dia sadari lamunannya membawa dia kembali kebeberapa jam sebelum dia dan keluarganya berada ditempat ini. Kekhusyukan keluarga mereka dalam sebuah acara keagamaan di sebuah Gereja, kebersamaan dan keceriaan mereka dimeja makan salah satu restoran ternama dikota itu. Kebersamaan yang paling indah yang pernah dia rasakan dalam hidupnya. Tetapi dia sangat tidak pernah menyangka keindahan kebersamaan malam itu adalah kebersamaan terakhirnya bersama Istri dan putranya. Kebersamaan yang berakhir dengan sebuah duka yang sangat dalam baginya.

Tertunduk di depan kedua jasad orang-orang yang dicintainya, tanpa tau lagi apa yang akan dan harus dia lakukan. Air matanyapun tak mampu mewakili seluruh perasaannya saat itu. Sampai seseorang menyentuh lembut bahunya dan berkata;
“Tuhan telah meringankan penderitaan mereka, dan sekarang mereka tidak akan pernah lagi merasakan sakit, relakan mereka dan serahkan semua pada Tuhan, masih ada putrimu yang akan sangat membutuhkanmu disampingnya.” 
Seketika tersentak tubuhnya saat mendengar kata “putrinya”. 


Masih diatas kursi rodanya, dibantu saudaranya menuju sebuah ruangan, terhenti didepan sebuah jendela kaca yang tertutup tirai tipis, seorang gadis terbaring lemas dengan mata tertutup rapat dan sebuah selang infus. Sedikit balutan perban terlihat menutup salah satu sisi tangannya.Terucap rasa syukur pada Tuhan masih memberikan putrinya kesempatan untuk bersamanya. Seorang putri yang akan menemaninya sampai masa tua menyambutnya, putri yang akan memberikan dia sebuah kekuatan untuk bisa tetap melangkah, menyusuri setiap jalan yang memang harus dilaluinya dengan senyuman.

Kembali tertunduk, tetapi kali ini dia merangkai sebuah doa untuk segala sesuatu yang terbaik baginya dimasa ini dan yang akan datang. Jemari tangannya perlahan mulai meniti butir-butir rangkaian Rosario yang selalu ada dalam genggamannya sejak beberapa saat setelah dia tersadar dari pingsannya. Bait demi bait kalimat doa mengalir dari bibirnya, sebuah doa tentang rasa syukurnya, sebuah doa tentang kepasrahan yang dia punya dan kekuatan batin yang didambanya. Lirih hampir tak terdengar, tetapi begitu tulus. Semua mengalir begitu saja. 

Sebuah Malam dalam suatu pergantian hari yang tidak akan pernah terlupakan  dalam hidupnya. Melewati malam dengan sebuah kejadian yang tak pernah ada dalam rencananya, bahkan membayangkan kejadian ini sekalipun tidak akan pernah mampu. Sebuah kejadian yang mengubah hidupnya dalam sekejap mata. Sebuah kejadian yang tidak perlu dicari kesalahan berada pada siapa, dan memang tak perlu menyalahkan siapa-siapa.
Ya….. rencana Tuhan tidak pernah ada yang tau dan hanya dengan doa kita bisa dan mampu melewati semuanya.

Saat hari mulai menyambut sang fajar, mulai  berdatangan support dari berbagai pihak dan semua itu membuatnya semakin kuat. Masih setia disamping tempat tidur putrinya, berharap jangan pernah ada sebuah tanya tentang malam itu, satu tanya yang tak pernah dia harap terucap untuknya, meskipun dia sangat sadar cepat atau lambat putrinya akan sadar. Belum sempat dia memikirkan apa yang akan dikatakannya jika putrinya sadar suara lirih itu mengejutkannya “Papa, aku dimana….??? Mama mana..?? Dedek mana…??” (“Tuhan Yesus….apa yang harus aku katakan...??”) tanyanya dalam hati. Pertanyaan yang bagaimanapun caranya dia memberikan jawab pasti akan menyakiti hati putrinya. Hanya diam yang mampu dilakukan mengiringi senyum kecut di bibirnya dan rasa sakit yang menyayat didalam hatinya. Belum sempat terucap kata dari sang Ayah, entah apa yang terlintas di benak putrinya sehingga membuat putrinya tiba-tiba berteriak dengan histeris, tak terkontrol seperti teringat akan sebuah kejadian yang sangat mengerikan didepannya. Sesaat beberapa paramedis datang, tetapi bukan sebuah pengertian atau jawaban yang mampu membuat putrinya tenang, melainkan mereka datang untuk memberikan suntikan obat penenang. Dan itu berlangsung setiap saat setelah putrinya tersadar yang sejujurnya membuat hatinya semakin sakit.

Dilain tempat pihak keluarga mengurus pemakaman Istri dan Putranya, dan dia mengurus kepindahan perawatan putrinya ke sebuah Rumah Sakit yang lebih dekat dengan rumahnya. Disela-sela waktunya, dia menyempatkan diri untuk bisa melihat dan mendoakan Istri dan Putranya di Rumah Duka untuk yang terakhir kalinya, dimana kedua orang yang sangat dicintainya disemayamkan sebelum nantinya akan dimakamkan di sebuah Pemakaman Umum di kota itu. Dalam kedatangannya yang terakhir dia hanya mampu ucapkan ;
“ Selamat jalan Mama, terima kasih sudah menjadi wanita terbaik di dalam hidup Papa dan Putra Putri kita seumur hidupmu, tersenyumlah di Surgamu… , Selamat Jalan Putraku, terima kasih sudah menjadi Matahari Papa selama kamu hadir dalam keluarga kita, tersenyumlah di Surgamu bersama Mama, Papa dan Kakak sayang Mama dan Dedek ” dan dia mengakiri pertemuan terakhir itu dengan ciuman terakhir pula untuk Istri dan Putranya.

Dengan langkah seringan mungkin sang Ayah kembali ke kamar Putrinya, untuk kembali mengurus semua yang diperlukan dalam kepindahan perawatannya.

Hari itu adalah hari pemakaman orang-orang yang dicintainya tapi dia rela tidak menghadiri upacara pemakaman itu demi putrinya, demi kepulihan putrinya yang sudah lebih baik, demi menjaga perasaan putrinya yang sampai hari itu belum tau bahwa mama dan adik laki-lakinya telah meninggalkan mereka untuk selama-lamanya.
Ya, putrinya hanya tau bahwa Mama dan Saudara laki-lakinya sudah pulang dan beristirahat dirumah. Bahkan saat pemakaman itu berlangsung, Putrinya sempat katakan kepada tantenya yang setia menunggunya bahwa adiknya sempat datang dan menjenguknya tapi hanya memandangnya dari luar pintu dan tidak mau masuk ke dalam kamar dimana dia dirawat. Ingin menangis rasanya mendengar Putrinya berkata seperti itu, tapi dia harus mampu untuk menahan semua rasa yang berkecamuk didalam hatinya.

Saat ini dia hanya mampu berdoa dan berdoa. Mohon supaya Tuhan memberikan jalan terbaik, cara terbaik bagaimana dia harus menyampaikan semua berita duka ini saat putrinya pulih kondisi fisiknya, mohon semoga putrinya mampu dengan besar hati menerima segala kondisi yang saat ini memang harus dihadapi.
Dan Putri itu adalah kamu, kamu yang saat ini terbaring didepanku, terlelap diatas tempat tidurmu. Kamu harus mengerti, perjuangan seorang Ayah untuk membuat kamu Putrinya tetap tersenyum disaat duka yang dialaminya teramat dalam adalah hal tersulit yang harus dilakukan.


Segala hal yang telah terjadi adalah sebuah pelajaran berharga baginya. Apapun yang kita miliki akan hilang dari hadapan kita kalau Tuhan telah mengambilnya.

Wednesday, May 4, 2011

Kebahagiaan Sejati Yang Kumiliki
















Saat semua bisa kumiliki
Saat segalanya bisa aku dapatkan dengan mudah
Apapun bisa aku beli dengan harta yang kupunya
Saat aku bisa membuktikan
Aku mampu dapatkan sebuah jabatan penting
Dalam jenjang karier yang kujalani
Mendapatkan segala fasilitas yang ada
Ternyata tidak mampu membuatku
Tersenyum dengan tulus
Ada ruang kosong dalam diriku
Yang tak mampu terisi dengan semua hal itu
Ada sesuatu yang hilang dari jiwaku
Yang tak mampu tergantikan oleh apapun

Tak bisa kupersembahkan
Waktu terbaikku untukmu
Tak pernah kulihat gelak tawamu
Tak pernah kunikmati polah tingkahmu
Tak pernah kudengar jeritan tangismu
Tak pernah lengkap kuikuti perkembanganmu
Hanya sisa waktu bersama letihku
Yang kamu dapatkan dariku
Selalu pergi meninggalkanmu
Saat kamu belum sempat membuka matamu
Hanya mampu memandangi lelap tidurmu
Menciummu dengan sisa rasa lelah
Disaat kamu  terbangun menyambut mentari pagi
Dan membuka kedua matamu
Kamu tak pernah menemukanku
Berada bersamamu dan menemanimu

Kita tak pernah bertatapan
Apalagi bercanda bersama
Saat diakhir minggu kita bisa bertemu
Kamu hampir tak mengenali siapa aku
Saat aku bersamamu
Dan ingin lebih dekat denganmu
Kadang penolakan yang kudapat darimu
Taukah kamu sayang….
Itu adalah saat yang sangat menyakitkan bagiku

Aku yang seharusnya menjadi orang terdekatmu
Tetapi kamu ternyata tidak mampu mengenaliku
Aku yang seharusnya menjadi wanita terbaikmu
Tetapi kamu tak pernah merasa memilikiku
Saat itu aku menyadari
Apa yang aku bisa raih selama ini
Semua tidak mampu membuatmu menjadi milikku
Tidak mampu membuatmu tersenyum bangga
Semua harta dan jabatan yang aku punya
Tak mampu membuatku menjadi wanita sempurna
Tak bisa membuatku menjadi wanita terdekatmu
Dan disitu aku sangat mengerti
Apa yang harus aku lakukan

Ya benar….
Kutinggalkan semua prestasi
Yang selama ini telah kuraih
Kulepaskan semua kesibukanku
Dan aku bisa dapatkan kembali
Apa yang sudah hilang dariku selama ini
Meraih apa yang selama ini tak pernah kumiliki
Aku bisa menikmati gelak tawamu
Masuk ke dalam dunia canda tawamu
Bahkan sempat mendengar tangis manja dan marahmu

Sebuah kebanggaan buatku
Saat kamu membutuhkan aku
Dan aku mampu berikan apa yang kamu ingin
Sebuah kebanggaan lagi untukku
Saat kamu memelukku dan berkata
 “aku sayang mami”

Terima kasih Tuhan
Ternyata pengorbananku selama ini
Mampu membuat aku
Menjadi seorang wanita yang paling berbahagia
Keputusan yang aku ambil
Adalah keputusan yang paling tepat dalam hidupku
Kekayaanku saat ini …
Bukan pada nominal yang aku hasilkan
Kebanggaanku saat ini …
Bukan lagi pada tingginya jabatan yang kusandang
Tetapi kebahagiaan sejatiku
Adalah aku bisa menjadi wanita terbaik
Menjadi wanita yang terindah bagi mereka
Bagi anak-anakku yang sangat membutuhkan aku
Memiliki waktu untuk mendampingi perkembangan mereka
Membuat mereka berhasil menjadi dirinya sendiri

Terima kasih Tuhan
Saat ini aku mampu mengerti
Bahwa hidup ini adalah sebuah pilihan
Apa yang ingin kita dapat dan rasakan
Adalah awal dari sebuah sikap
Untuk menentukan sebuah keputusan
Langkah apa yang akan kita lakukan
Untuk kita bisa dapatkan
Apa yang ingin kita rasakan…

Monday, May 2, 2011

Setahun Kepergianmu Ke Firdaus
















Setahun berlalu tanpamu
Sejak kepergianmu ke taman Firdaus
Meninggalkan aku dan bintangmu
Aku tak pernah berhenti mencintaimu
Hanya harus kuakui
Aku benar-benar tak kuasa
Menahan semua rindu yang selalu menghampiriku
Kadang mata ini begitu panas
Ingin menangis sekeras-kerasnya karena kepergianmu
Tapi aku tak ingin membiarkan bintangku ikut bersedih
Aku ingin bintangku tau
Kepergian bundanya adalah yang terbaik untuk bundanya
Aku sangat bisa mengerti
Kepergianmu adalah terbaik untukmu
Dia sangat menyayangimu
Melebihi sayangku padamu
Dia inginkan kamu di Surga-Nya
Agar kamu tak pernah rasakan lagi rasa sakit
Yang selama ini selalu menyiksamu
Kekasihku…..
Sampai saat ini hati ini masih milikmu
Saat kamu meninggalkanku
Aku tak pernah menganggap semuanya telah selesai
Kisah kita tidak akan pernah selesai
Meskipun kamu telah meninggalkan aku
Dan tak akan pernah kembali padaku
Tuhan masih percaya
Malaikat cinta kita yang Tuhan berikan untuk kita
Akan selalu ada bersama menemaniku
Dia akan selalu menjadi bintang dimataku
Menjadi malaikat di hatiku
Akan selalu mengingatkan aku
Bahwa kamulah terindah untukku
Bahwa cintaku padamu tidak akan pernah berakhir
Memperingati satu tahun kebahagiaan abadimu di Surga
Aku ingin kamu melihat dan mengerti
Betapa aku masih sangat mencintaimu…

Friday, April 29, 2011

Untukmu Sahabat


Terdiam dalam satu suasana
Termenung mengenang kebersamaan kita
Semua berjalan begitu indah
Kamu dan aku selalu bersama
Kamu tau apa yang kurasa
Akupun mengerti apa yang terjadi padamu
Pernah sekali waktu
Seseorang ingin hancurkan semuanya
Tapi ternyata dia salah dengan piker yang dia punya
Kita tak pernah bisa dipisahkan

Pernah terbersit rasa takut kehilanganmu
Ada rasa takut tak bisa lagi berbincang denganmu
Takut tak ada waktumu lagi bertemu denganku
Saat kamu menemukan belahan jiwamu
Saat kamu putuskan akhiri sendirimu
Kamu katakan tak akan pernah bisa tergantikan
Semua kebersamaan kita
Meski kamu telah bersamanya

Dan kamu buktikan semuanya
Kamu tak pernah menggantikan posisiku dihatimu
Kamu masih seperti saat kamu hanya bersamaku
Saat sebelum dia memilikimu
Terima kasih kamu masih mau berbagi cerita bersamaku
Masih mau mendengar semua yang terjadi tentangku
Terima kasih juga sahabat….
Kamu tidak pernah bertanya
Tentang segala hal yang membuatku merasa tidak nyaman
Kamu mengerti aku dan aku juga mengerti kamu
Berbahagialah bersamanya sahabatku
Karena kita adalah sahabat
Dahulu, kemarin, sekarang dan sampai nanti
Kita akan tetap menjadi sahabat sejati
Yang tidak akan pernah bisa dipisahkan oleh siapapun
Dan digantikan oleh apapun….

Monday, April 25, 2011

Air Mata Kepedihan


















Saat aku mencoba menjadi wanita terbaikmu
Ternyata itu tak berarti buatmu
Begitu tanpa warna hubungan kita
Aku selalu terima semuanya
Saat aku tau ada orang ketiga diantara kita
Aku mencoba menerima
Tetapi saat kamu semakin tidak mau mengerti
Apa yang aku rasa
Itu membuatku sedikit jengah
.
..
Mungkin itu sedikit pengantar untuk membuka surat ini;

Surat ini aku tulis untuk suamiku “tersayang”
Aku semakin menyadari, bahwa semakin hari sikapmu terhadapku bukan semakin baik, tapi semakin tidak peduli. Aku hanya ingin kita bisa selalu tersenyum bersama demi matahari-matahari kita, tetapi ternyata usahaku mempertahankan kasih ini tidak mampu membuatmu bisa tersenyum untukku. Kamu justru semakin tidak peduli dengan apa yang aku rasakan karena semua yang telah kamu lakukan pada diriku.

Kehadirannya membuatmu menjadi buta pada apa yang sebenarnya harus kamu lihat. Orang ketiga…..sebutan itu bisa berarti siapa saja yang mencoba menjadi pengaruh buruk dalam hubungan kasih kita, siapapun dia yang pasti dia sudah menghancurkan apa yang sudah aku coba bangun dengan susah payah. Aku mencoba bertahan selama ini bukan dengan mudah, itu adalah hal yang teramat sulit buatku, sesuatu yang dengan susah payah aku coba pertahankan tanpa keluh-kesah walaupun sebenarnya hati ini menangis. Mungkin kamu dan semua orang melihatku tersenyum, namun aku tak bisa membohongi diriku sendiri, selama ini semuanya sangat menyakitkan. Dan sekarang setelah kehadirannya kamu semakin mudah menyakitiku.

Malam itu aku hanya mencoba untuk memohon sedikit dari pengertianmu untuk bisa lebih menghargai aku sebagai seorang wanita tepatnya sebagai istrimu, yang selama ini selalu berusaha ada saat kamu membutuhkan sesuatu. Tapi ternyata permohonanku terlalu besar buatmu. Kamu tidak terima dengan protes kecilku, kamu tidak terima dengan permohonan ringanku. Yang aku terima adalah sebaliknya, kesalahan yang kamu buat  tidak pernah kamu akui, kamu mengagungkan pendapatmu yang tidak lagi pedulikan pendapatmu itu menyakitkan atau tidak buat orang lain yang mendengarnya.

Saat aku menyerah dengan hubungan kita, dan aku hanya ingin supaya matahari-matahari kita selalu tersenyum ceria, aku hanya ingin meninggalkanmu sendiri bersama dengan keegoisanmu, dengan segala kemunafikan yang ada padamu. Aku ingin mencari kehidupan yang bisa membuat aku dan matahari kecilku bisa selalu tersenyum. Tapi ternyata semua itu juga tidak membuatmu sadar akan apa yang selama ini telah kamu lakukan pada diriku. Yang terjadi justru sebaliknya adalah kamu menggunakan tubuhmu untuk membuatku rubuh, kamu melemparkan tubuh lemahku, hanya dengan alasan aku tidak mendengarkan apa yang sudah kamu katakan. Kamu ingin menahnku untuk tetap bersamamu agar kamu begitu mudah menyiksaku.

Itu sungguh menyakitkan buatku, tetapi yang lebih menyakitkan adalah kamu melakukan semua itu di depan matahari-matahari kita. Sakit di dalam hatiku saat melihat mereka berteriak menangis melebihi sakit yang aku terima karena perlakuanmu. Bahkan setelah kejadian itu, tidak ada rasa penyesalan dalam dirimu, kamu merasa tidak pernah melakukan apapun terhadapku. Satu kalimat yang kamu sampaikan pada matahari-matahari kita
  “ayah tidak melakukan apapun, hanya ibu kalian saja yang merasa kalau ayah melemparnya, ayah melakukan itu terhadap ibu kalian, karena ibu kalian tidak mendengarkan apa yang ayah katakan..!!”

Suamiku “tersayang”…
Apakah kamu sadari, apa yang kamu lakukan malam itu telah membekas dan menjadi kenangan buruk buat mereka?
Saat tidak ada kamu, setiap dia melihatku duduk seorang diri mereka selalu bertanya;
  “ayah jahat ya bu..?? 
   ayah sudah lempar ibu ke lantai..??”
Sesaat aku tersenyum, tanpa mereka tau sakitnya hati ini mengetahui mereka mengingat semua yang mereka lihat malam itu, hanya menangis dalam hati yang mampu aku lakukan. Aku coba katakana pada mereka ;
  “bukan sayang….,ayah bukan melempar ibu, malam itu ibu terpeleset dan ayah berusaha menangkap ibu tetapi tidak berhasil”
Sekali lagi aku menagis dalam hati saat mereka memeluk erat tubuhku dengan tatapan sedih dan satu kalimat yang tak pernah kuduga bisa dikatakan oleh mereka…..
  “ibu….,mana yang sakit…?? Aku tidak mau sama ayah, ayah jahat udah lempar ibu. Ibu jangan sedih ya…, mana yang sakit.?? Aku sayang ibu…”


Suamiku “tersayang”…
Apapun yang aku katakan pada mereka tentang kamu, tidak akan pernah membuat mereka percaya, mereka lebih percaya apa yang sudah mereka lihat, dan sampai hari ini mereka masih menyimpan kenangan pahit malam itu. Taukah kamu ketika suatu senja mereka sedang berbincang satu sama lain,  adek berkata pada kakaknya;
  “ayah kita hebat ya kak, ayah kuat…ayah hebat bisa lempar ibu sampai tangan ibu patah”,
dan taukah kamu apa yang akhirnya dikatakan kakak tertuanya..??
dia katakan pada sang adik
“itu bukan hebat dek…tapi itu jahat, ayah sudah buat ibu menagis, ayah jahat,kita tidak boleh seperti ayah.”
Ibu mana yang bisa tenang mendengarkan percakapan seperti itu, hati ibu mana yang tidak menagis mengetahui luka itu ternyata ada dihati anak-anaknya…??
Apa yang akan terjadi kelak pada anak-anaknya jika mereka sudah besar nanti dan masih mengingat semua kejadian itu…??
Berfikirkah kamu semua akan menjadi seperti ini..??
Pedulikah kamu atas apa yang sedang mereka alami paling tidak (kalau kamu tidak mau tau apa yang terjadi padaku).

Tuhan…. Kalau saat ini aku boleh bertanya;
Apakah dibenarkan dengan alasan orang lain tidak mendengarkan apa yang kita katakan   lantas kita diperbolehkan berbuat sesuai apa yang kita mau….?
Apakah sudah kodratnya seorang istri harus tunduk terhadap semua yang dikatakan oleh suaminya meskipun suaminya bersalah…?
Apakah sudah takdirnya seorang istri harus tertunduk dan meneteskan airmata saat diperlakukan kasar oleh suaminya….?
Apakah kita masih harus tetap tersenyum disaat hati kita hancur tercabik-cabik oleh keegoisan dan kesemena-menaan orang lain…?

-------------------- **********--------------------

Beberapa kata yang mampu aku tambahkan untuk surat ini;
*kita tidak pernah tau apa yang akan terjadi dalam sebuah hubungan.
*mengapa orang sangat sulit untuk mengakui sebuah kesalahan yang telah dilakukannya..???
*mengapa orang sangat berat mengucapkan kata “maafkan aku, aku telah bersalah” dengan tulus dari dalam hatinya..???
*haruskah semua masalah diakhiri dengan sebuah kekerasan, apapun alasannya itu akan sangat menyakitkan….
*jadilah manusia yang bisa disebut manusia sebelum Tuhan mencabut ijin kalian menjadi manusia.

Imbalan Kemunafikan


“adalah seorang laki-laki yang sebenarnya tidak mampu melakukan hal besarlah yang berani menyakiti seorang wanita”

Dan satu dari laki-laki itu adalah kamu
Seorang pria yang jauh dari kata ramah
Kepada seorang wanita yang selama ini 
Masih setia menjadi pendampingmu
Selalu sikap tak peduli yang kamu berikan untuknya
Selalu menyakitkan yang kamu lakukan padanya

Semua sakit yang kamu ciptakan
Tidak akan membuatnya menjadi wanita pasrah dan takut
Apalagi jika dengan menyakitinya
Kamu berharap dia akan menjadi tunduk dan hormat padamu
Kamu sangat salah menilainya
Kediaman seorang wanita bukan berarti kalah
Aku ingin kamu sedikit mengenal seorang wanita lebih dalam
Wanita tak akan pernah tinggal diam
Atas apa yang telah dia terima
Dia bukan hanya akan membalas apa yang telah dia rasakan
Tetapi dalam kediamannya
Dia akan merangkai sebuah drama kehidupan
Yang pasti akan sangat lebih menyakitkan
Untuk dipersembahkan untukmu
Untuk seorang laki-laki yang tak bernyali
Yang telah membuatnya selalu terluka

Kamu hanya tinggal menunggu
Kapan waktunya pembalasan itu akan tiba
Bukan secepat yang mungkin kamu bayangkan
Karena waktu itu akan sangat berjalan pelan
Tetapi akan terasa sangat menyakitkan
Dan kamu akan menikmati rasa sakitmu
Sampai kamu meninggalkan alam nyata ini

Kalau sekarang dia mau tersenyum
Itu bukanlah senyuman termanis untukmu
Tapi itu adalah jebakan beracun yang sengaja dia pasang
Untuk membuatmu tak bisa bergerak sesukamu lagi

Kalau sekarang dia menyapamu
Itu bukan karena dia perhatikan kamu
Tapi karena dia ingin menyerangmu 
Dengan kata yang diucapnya

Kalau sesaat dia mau menatapmu
Itu bukanlah tatapan kedamaian padamu
Tapi itu adalah sebuah tatapan tajam
Yang menunjukkan betapa muaknya dia 
Terhadap munafiknya kamu

Kalau dia mau kau sentuh
Itu bukan karena dari hatinya
Tapi karena dia sadar
Itu adalah sebuah kewajiban yang harus dia jalankan
Sebuah rutinitas yang harus dia lakukan
Rela atau terpaksa, suka atau tidak suka…..
*tersenyum sinis*

Tak Akan Pernah Denganmu


















Tidak tau harus mulai dari mana
Penatku sudah diambang amarah
Tak mau kulampiaskan
Bukan karena aku tak mampu
Tapi aku tak mau menambah luka dihati mereka
Kulihat tatapan-tatapan polos itu
Tak berdosa dan tak bersalah
Mereka adalah sepasang intan dalam kubangan lumpur
Yang tidak mengerti apa arti hitamnya sebuah kehidupan
Mereka hanya mengerti senyum itu adalah indah
Mereka tidak tau perih apa yang tersimpan di dalam jiwa
Bukan tidak tau…
Tapi karena mereka belum tau apa itu “sakit”
Sedangkan kamu….
Kamu adalah seorang pengecut
Yang tidak pernah berani
Mempertahankan apa yang sudah kamu punya
Disaat apa yang kamu miliki direbut orang lain
Kamu hanya mampu mengeluh dan bilang “aku kecewa”
Tanpa mau dan mampu berbuat apa-apa
Kamu adalah pecundang
Yang tidak mampu merebut sebuah kemenangan cinta
Kamu terlalu lemah didepan kaum hawa
Atau mungkin memang itu yang kamu mau
Itu yang menjadi obsesimu
Mampu menaklukkan kaum hawa di sekelilingmu
Basa basi busukmu memang selalu berhasil 
Dihadapan orang lain
Mampu membuat orang lain terlena
Tapi maaf…., bukan didepanku…!!!
Sekian banyak kebusukan yang kamu lakukan dibelakangku
Telah membuatku jijik untuk mau dekat denganmu
Kamu pikir aku sebodoh wanita-wanitamu
Yang hanya mampu berkata “iya”
Terhadap semua yang kamu mau
Kamu salah besar kalau kamu menilai aku seperti itu
Cukup kamu tau…
Karena semua yang kamu lakukan padaku
Kamu tidak akan pernah mendapatkan sedikitpun dari hatiku
Tidak akan pernah…!!!!!!!